BERITA INDUSTRI

Gas Bintuni Dipasok dari Kasuari


Senin, 11 Agustus 2014

Sumber: Bisnis Indonesia

JAKARTA-Kebutuhan tiga pabrik petrokimia yang digarap oleh LG International, Ferrostaal, dan Sojizt di Teluk Bintuni dipastikan akan terpenuhi dari Blok Kasuari yang dioperasikan Genting Oil.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan terdapat cadangan gas dua triliun cubic feet di Bintuni yang proven. Cadangan gas di Bintuni diyakini cukup untuk memenuhi kebutuhan industri di wilayah ini.

“Proyek LG butuh 91 mmscfd dan Ferrostaal sekitar 202 mmscfd. Insyaallah dalam tiga bu lan ke depan pembicaraan alokasi gas selesai,” tuturnya Jumat (8/8).

Jaminan alokasi gas tersebut dijelaskan Harjanto saat ditemui seusai mendampingi Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menerima kedatangan perwakilan LG International dan PT Duta Firza. Dua perusahaan tersebut terkendala pasokan gas untuk merealisasikan proyek pabrik methanol mereka.

LG International dan Duta Firza bekerja sama membangun pabrik petrokimia penghasil methanol di Teluk Bintuni, Papua Barat senilai US$1,2 miliar.

Kemenperin menyatakan akan segera dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan LG sebagai bentuk komitmen kerja sama bisnis.

Kementerianpun mengaku siap merekomendasikan pemberian tax holiday dengan syarat LG bersedia menambah derivatif produk dari methanol. Hal itu bertujuan agar tercipta nilai tambah petrokimia yang lebih tinggi bagi Indonesia.

“Kami juga diskusikan dengan Pupuk Indonesia, Ferrostaal, dan LG Chemical untuk mengembangkan common facility bersama karena Bintuni itu daerah remote dan bangun infrastrukturkan costly,” ujar Harjanto.

Bila pelaku industri di Bintuni bisa kooperasi dalam pemanfaatan common facility akan tercipta efisiensi tidak hanya dari segi materi tetapi juga lahan. Contohnya adalah penggunaan infrastruktur pembangkit listrik bersama.

Pembicaraan mengenai hal tersebut pasti melibatkan PT Pupuk Indonesia. Pasalnya perseroan pelat merah ini ditunjuk sebagai pengelola kawasan industri di Teluk Bintuni. Khusus un tuk memenuhi kebutuhan gas Pupuk Indonesia, pemerintah mengalokasikannya dari BP Tangguh.

Chief Representative LGI Jakarta Office Jee Hoon Kang menyatakan jaminan alokasi gas merupakan hal krusial untuk merealisasikan investasi di Teluk Bintuni. Proyek pabrik methanol LG di kawasan tersebut ditargetkan menghasilkan 1 juta ton methanol per tahun.

Pabrik petrokimia yang akan digarap LG International dengan Duta Firza ini diperkirakan membutuhkan waktu tiga tahun untuk proses konstruksi. “Namun, sebelum itu kami harus studi dulu sekitar 1,5 tahun. Investasi proyek ini lebih dari US$1 miliar tepatnya US$1,2 miliar,” katanya.

EKSPOR

Sekitar 90% produksi pabrik tersebut akan diekspor. Methanol yang ada akan dipakai untuk bahan baku industri petrokimia.

Ini akan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bila methanol dari pabrik LG bisa diolah sampai ke produk turunan lantas diserap di dalam negeri.

“Kami masih pelajari permintaan Kemenperin untuk memproduksi produk derivatif methanol. Step pertama tetap methanol yang kami produksi,” tutur Hoon Kang.

Selain LG International-Duta Firza terdapat investor lain yang hendak menanamkan kapital di Bintuni, yaitu Ferrostaal Industrial Projects GmbH, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., dan Pupuk Indonesia. Pemerintah sejak tahun lalu merancang Teluk Bintuni sebagai kawasan industri petrokimia berbasis gas.

“Akan diatur dalam perpres baru untuk meningkatkan prioritas industri yang sekarang pada urutan keempat sesuai Permen ESDM No. 3/2010,” kata Harjanto.

Pengembangan investasi industri petrokimia Teluk Bintuni dan industri turunannya diharapkan berkontribusi besar dalam penguatan industri petrokimia nasional. Kemenperin ingin ketergantungan impor petrokimia US$10 miliar per tahun bisa berkurang. Dini Hariyanti

Share:

Twitter