BERITA INDUSTRI

64% dari Industri Nasional Bergantung pada Bahan Baku Impor


Jumat, 30 Mei 2014

Sumber: Indonesia Finance Today

JAKARTA - Sekitar 64% dari total industri di Indonesia masih mengandalkan bahan baku, bahan penolong, serta barang modal impor untuk mendukung proses produksi, menurut pejabat Kementerian Perindustrian. Karena itu, mayoritas industri rentan terhadap fluktuasi kurs rupiah terhadap do-lar Amerika Serikat.

"Jumlah tersebut berasal dari sembilan sektor industri yakni permesinan dan logam, otomotif, elektronik, kimia dasar, makanan dan minuman, pakan ternak, tekstil dan produk tekstil (TPT), barang kimia lain, serta pulp dan kertas," kata Anshari Bukhari, Sekjen Kementerian Perindustrian.

Menurut dia, sekitar 64% industri itu mendominasi nilai produksi industri nasional sebesar 80% serta menyumbang 65% penyerapan tenaga kerja. "Hal itu menunjukkan peran strategis dari sembilan sektor industri tersebut," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, neraca perdagangan enam dari sembilan industri itu ternyata defisit karena impor lebih besar dibandingkan ekspor. Total impor bahan baku dan bahan penolong dari 64% industri nasional itu mencapai sekitar 67,9%, impor barang modalnya mencapai 24,6%, dan impor barang konsumsinya 7,5%.

Menyadari hal itu, Anshari menjelaskan, pemerintah ingin segera mengatasi masalah tersebut karena menjadi prioritas Kementerian Perindustrian. "Salah satu caranya ' mempercepat program hilirisasi agar ketergantungan bahan baku impor semakin kecil," ujarnya.

Selama ini, Anshari mencontohkan, banyak sumber daya alam Indonesia baik di bidang agro mau-pun mineral diekspor dalam keadaan mentah, kemudian diolah di ne-gara lain menjadi barang semi jadi, dan diimpor ke Indonesia sebagai bahan baku atau bahan penolong. Karena itu, pemerintah mengam-anatkan bahan mentah wajib diolah di dalam negeri agar industri hilirnya tumbuh dengan struktur yang kuat.

Ketergantungan bahan baku impor yang tinggi menyebabkan industri nasional rentan terhadap gejolak kurs. Setelah melemah cukup signifikan sebesar 26% menjadi Rp 12.000 per dolar AS, kurs rupiah cenderung menguat di kuartal I 2014. Namun, rata-rata kurs rupiah pada tiga bulan pertama tahun ini masih tetap tinggi dibanding rata-rata kuartal I 2013.

Berdasarkan data Bloomberg, pada kuartal I 2014 rupiah menguat 6,4% dari posisi Rp 12.160 ke level Rp 11.380. Rata-rata kurs rupiah terhadap dolar AS di periode tersebut Rp 11.770. Nilai rata-rata kurs itu lebih tinggi 21,4% dibanding rata-rata kuartal I 2013 sebesar Rp 9.694.

Salah satu sektor industri yang terpukul akibat pelemahan kurs itu adalah sektor pakan ternak mengingat 80% bahan baku masih bergantung pada impor.

Berdasarkan riset IFT dari laporan keuangan, tiga emiten pakan ternak, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), mencatat kenaikan rugi kurs yang signifikan, rata-rata hampir 10 kali lipat, sepanjang 2013 secara tahunan.

Kenaikan rugi kurs menekan laba bersih ketiga emiten pakan ternak tersebut sehingga laba bersih ketiganya turun rata-rata 22% di periode yang sama.

Share:

Twitter