BERITA INDUSTRI

Pemerintah Tingkatkan Kinerja Ekspor Industri Manufaktur


Rabu, 11 September 2013

 


Pemerintah terus mengajak para pelaku sektor riil, khususnya pelaku usaha dan eksportir industri manufaktur untukbersinergi dengan pemerintah melakukan langkah terobosan strategis dalam jangka pendek guna meningkatkan ekspor non-migas, terutama ekspor produk industri manufaktur yang merupakan produk ekspor bernilai tambah tinggi.


“Kami berniat secara ad hoc dapat menyelesaikan permasalahan dalam jangka waktu pendek pada 3 sampai 6 bulan kedepan mengenai peningkatan volume ekspor kita, dan setiap sektor akan diinventarisasi apa masalahnya yang bisa ditanggulangi di tiga kementerian, yaitu kementerian perindustrian, kementerian perdagangan, dan kementerian keuangan. Pada intinya, program-program yang sudah dicanangkan presiden bisa segera dilaksanakan,” kata Menperin dalam juma pers seusai Forum Ekspor Industri Manufaktur di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta (11/9).


Berdasarkan data Kemenperin mengenai perkembangan ekspor terkini, posisi nilai ekspor non migas Indonesia pada tahun 2012 mencapai USD 153.05 miliar yang ditopang oleh ekspor industri manufaktur USD 116.14 miliar atau memberikan kontribusi sekitar 75% terhadap ekspor non migas. Posisi ekspor non migas tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 sebesar 5.53%, yaitu dari USD 162.02 miliar dan ekspor industri manufaktur juga mengalami penurunan sebesar 4.95%,  yaitu dari USD 122.19 miliar.


Sementara itu, pada periode Januari-Julitahun 2013, data BPS menunjukkan nilai ekspor non migas mencapai USD 87.57 miliar, dimana ekspor industri manufaktur mencapai USD 66.28 miliar. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, posisi ekspor non migas tersebut mengalami penurunan 2.66% yaitu dari USD 89.95 miliar, demikian pula ekspor industri manufaktur turun 2.58% dari posisi USD 68.03 miliar.


 Upaya untuk meningkatkan ekspor industri manufaktur ini sangat menjadi concerned pemerintah, mengingat sektor industri manufaktur merupakan sektor yang memberikan nilai tambah tinggi bagi kegiatan ekonomi termasuk kegiatan ekspor,” tegas Menperin. Terlebih lagi,kegiatan ekspor saat ini dihadapkan pada kondisi pasar ekspor dan pertumbuhan ekonomi global yang semakin melemah akibat dari kondisi in-stabilitas sosial-politik yang terjadi di sebagian belahan dunia, kebijakan moneter diadopsi secara sepihak oleh negara-negara maju, serta kondisi internal perekonomian nasional yang semakin kompleks, termasuk laju inflasi dan fluktuasi nilai mata uang rupiah.



Share:

Berita Serupa

Twitter