BERITA INDUSTRI

RI Mampu Produksi 250 Ribu Mobil Murah


Kamis, 13 Juni 2013

sumber : Investor Daily

JAKARTA - Lima prinsipal mobil di Tanah Air diproyeksikan mampu memproduksi 250 ribu unit mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car/LCGC) per tahun setelah menyelesaikanpembangunan pabriknya dua-tiga tahun ke depan.
Mereka terdiri atas PT Toyota Astra Motor, PT Astra Daihatsu Motor, PT Honda Prospect Motor, PT Suzuki Indomobil Sales, dan PT Nissan Motor Indonesia.
Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan, pemilik merek otomotif yang sudah menyatakan kesiapannya untuk memproduksi LCGC adalah Daihatsu dan Toyota dengan target produksi LCGC masing-masing sekitar 55 ribu unit per tahun. Merek akan diproduksi Ayla dan Agya. Sedangkan pemilik merek lain yang menyatakan berminat Honda, Suzuki, dan Nissan.
"Jika lima produsen itu menghasilkan 50 ribu unit LCGC, total produksinya bisa mencapai 250 ribu unit. Bahkan, jika permintaan LCGC nanti tinggi, produksi bisa digenjot mencapai 300 ribu sampai 600 ribu unit per tahun," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/6).
Dia juga optimistis, mobil LCGC akan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat dan mendongkrak total penjualan mobil secara nasional.
Harga LCGC yang murah serta pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan per kapita masyarakat akan semakin mendorong LCGC diminati oleh masyarakat.
Menurut Budi, penjualan mobil LCGC tidak hanya diproyeksikan untuk pasar di dalam negeri saja, tapi juga ekspor. "LCGC tidak hanya untuk pasar dalam negeri, tapi juga untuk ekspor dengan menargetkan ke 70negara," paparnya.
Dia menjelaskan, mobil LCGC harus segera diproduksi di dalam negeri karena Thailand dan Malaysia sudah mulai memproduksinya. Sedangkan kebutuhan di dalam negeri berdasarkan survei cukup tinggi.
"Target kami, 60 juta pengendara sepeda motor adalah pembeli utama mobil LCGC. Kalau kebutuhan ini tidak dipenuhi, pasar kita akan dibanjiri produk impor dari luar negeri," tegasnya.
Namun Budi juga mengingatkan, peraturan juga membatasi bahwa kapasitas mesin LCGC maksimal 1.200 CC karena untuk menempuh jarak dekat. Mobil jenis ini diharapkan hanya dipakai untuk mobilitas perkotaan.
Karena didesain untuk memenuhi kebutuhan transportasi jarak pendek, program ini diyakini tidak mematikan moda transportasi jarak jauh, seperti bus dan kereta api.
"Aturan LCGC tidak untuk semua kategori, hanya 1.000-1.200 CC. Sekarang trennya kalau orang mau pergi jauh itu pilihannya naik kereta atau pesawat. Jadi mobil ini memang tenaganya tidak harus besar, cukup yang dekat-dekat saja," katanya.
Potongan PNBM
Sementara itu, Budi mengklaim, saat ini, pihaknya sebenarnya sudah menyelesaikan peraturan menteri perindustrian (permenperin) yang akan menjadi petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) LCGC dan mobil beremisi karbon rendah (low emission carbon/LCE). "Cukup satu bulan akan selesai. Ini draf sudah jadi, tinggal ditandatangani (Menteri Perindustrian MS Hidayat)," ucapnya.
Dengan acuan permenperin, setiap merek mobil ramah lingkungan diyakini bisa mulai diproduksi dalam satu bulan ke depan, termasuk mekanisme pengujian konsumsi BBM-nya di laboratorium BPPT di Serpong, Banten.
Namun untuk pemasarannya, agen pemegang merek (APM) masih harus menunggu penerbitan peraturan menteri keuangan yang mengatur mekanisme pemberian insentifnya.
Pemerintah akhirnya menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
PP ini telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Mei lalu. Dengan pemberian potongan PPnBM sebesar 25-100%, kebijakan itu juga bertujuan memacu investasi industri otomotif di dalam negeri.

Share:

Twitter