BERITA INDUSTRI

Semester I, Konsumsi Plastik 1,9 Juta Ton


Senin, 13 Mei 2013

sumber : Investor Daily

JAKARTA - Konsumsi plastik di Indonesia diproyeksikan mencapai 1,9 juta ton hingga semester I-2013. Jumlah tersebut meningkat sekitar 22,58% dibandingkan semester yang sama tahun lalu sebanyak 1,55 juta ton.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Budi S Sadiman menuturkan, konsumsi plastik nasional bisa mencapai 1 juta ton pada kuartal II-2013 dari kuartal sebelumnya 900 ribu ton.
"Adanya momentum panen raya dan menyambut Lebaran pada awal Agustus mendatang menjadi faktor pendorong kenaikan permintaan plastik di dalam negeri," ujar Budi kepada Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.
Nilai penjualan industri plastik di pasar domestik mencapai sekitar Rp 47,5 triliun pada semester I-2013, dengan asumsi konsumsi mencapai 1,9 juta ton (1,9 miliar kilogram/kg) dan harganya Rp 25 ribu per kg. Omzet kuartal I senilai Rp 22,5 triliun dan kuartal ini Rp 25 triliun.
Dia melanjutkan, tren penggunaan kemasan plastik untuk hasil panen dan pascapanen beras yang semakin bertambah meningkatkan permintaan plastik pada kuartal ini.
Selain itu, tiga bulan menjelang Lebaran biasanya permintaan plastik dari industri makanan minuman (mamin) melonjak drastis.
Pasalnya, mereka mulai meningkatkan produksi hingga 30% di atas volume biasanya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama puasa dan Lebaran.
"Nanti biasanya, permintaan plastik akan mulai sepi pada sepekan sebelum dan sesudah Lebaran. Tetapi itu sudah masuk kuartal III," tuturnya.
Menurut Budi, konsumsi plastik nasional masih didominasi dalam bentuk kemasan bisa mencapai 65%. Sementara itu, sisanya 35% digunakan oleh industri besar untuk pembuatan alat-alat rumah tangga, pipa, furnitur, elektronik, bagian kendaraan, dan lainnya.
Dia menyebutkan, dari total permintaan plastik kemasan, sekitar 60% diserap oleh industri mamin. "Karena itu, kenaikan permintaan dari industri mamin akan cukup berpengaruh pada omzet industri plastik secara keseluruhan," imbuhnya.
Sementara itu, Budi berharap, konsumsi plastik nasional bisa tumbuh 7% menjadi 3,4 juta ton pada 2013 dibandingkan pencapaian tahun lalu 3,2 juta ton. "Realisasi konsumsi plastik pada kuartal I-2013 cukup bagus, berhasil tumbuh 7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," tutur dia.
Harga Produk
Sementara itu, Budi tidak menampik kemungkinan adanya potensi penaikan harga produk plastik sekitar 5% pada akhir 2013 akibat sejumlah peningkatan biaya komponen produksi.
Potensi kenaikan harga plastik bisa terjadi jika harga minyak internasional kembali bergejolak dan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi yang akan berpengaruh ke biaya logistik.
"Kalau saat ini, harga minyak dunia masih relatif stabil dan sempat turun 10% dari akhir tahun lalu, sehingga harga bahan baku plastik sekitar US$ 1.500 per ton. Kami saat ini masih mengimpor polyethylene dan polypropylene dalam jumlah besar," katanya.
Dia menjelaskan, struktur biaya industri plastik mencapai 60% dikontribusi oleh harga bahan baku yang berasal dari minyak, di antaranya polyethylene dan polypropylene. Sedangkan upah minimum provinsi (UMP), tarif tenaga listrik (TTL), dan transportasi hanya bagian dari 40% biaya lain-lain yang ditanggung oleh industri plastik. Seperti diketahui, pemerintah menaikkan UMP 40% awal tahun ini, TTL 15% hingga akhir 2013, dan berencana menaikkan
harga BBM bersubsidi.
Meskipun ada potensi penaikan harga plastik di dalam negeri, Budi yakin tidak akan berpengaruh signifikan terhadap konsumen, termasuk industri mamin.
"Biaya untuk kemasan plastik tidak terlalu signifikan dibandingkan produk utama yang dijual. Jadi, kalaupun misalnya ada kenaikan harga kemasan, tidak akan terlalu besar dampaknya," jelas Budi.
Produksi Nasional
Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto pernah menyampaikan, potensi konsumsi produk plastik di Indonesia masih cukup besar. "Saat ini, konsumsi nasional per kapita per tahun baru 10 kg, relatif lebih rendah dibandingkan negara Asean lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang telah mencapai 40 kg," katanya.
Menurut dia, permintaan plastik terbesar berupa kemasan didorong oleh pertumbuhan industri mamin sebesar 60%. Indonesia memiliki sekitar 892 perusahaan industri kemasan plastik, yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging, thermoforming, dan extrusion, yang tersebar di beberapa wilayah.
Kapasitas terpasang industri kemasan plastik nasional mencapai 2,35 juta ton per tahun dan utilisasinya sebesar 70%, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton per tahun. "Penyerapan tenaga kerjanya sekitar 350 ribu orang," paparnya.

Share:

Twitter