BERITA INDUSTRI

Pemerintah Pastikan Insentif PPnBM Mobil LCGC Hingga 0%


Jumat, 28 Desember 2012
JAKARTA - Pemerintah memastikan pemberian insentif kepada produsen mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green carl LCGC) berupa pengurangan PPnBM hingga 0%. Insentif ini akan diatur dalam peraturan presiden (perpres) pengembangan mobil LCGC yang ditargetkan rampung pada Januari 2013.

Menteri Perindustrian MS Hidayat menuturkan, substansi perpres pengembangan mobil LCGC saat ini sudah rampung. Dia memastikan perpres tersebut mengatur pemberian insentif berupa pengurangan PPnBM hingga 0%.

"Sekarang draf perpresnya sudah diserahkan ke Setneg (Sekretariat Negara). Menkeu juga sedang meminta waktu untuk melapor ke DPR pada minggu pertama Januari, tapi bentuknya konsultasi, bukan permintaan persetujuan," ujar Hidayat di Jakarta, Kamis (27/12).

Hidayat menargetkan, perpres tersebut dapat rampung pada Januari 2013, sehingga produsen mobil LCGC dapat segera memulai produksinya.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Bambang Brojonegoro menuturkan, insentif untuk mobil LCGC akan bervariasi. Bahkan, untuk jenis mobil tertentu tidak dikenakan PPnBM atau tarifnya 0%.

"Ada yang dapat PPnBM hingga 0%, tapi untuk kendaraan tertentu. Intinya ada pengurangan, misalnya sebelumnya dia kena PPnBM 10%, dikurangi 10%, jadi 0%. Kemudian yang 20% jadi 10% PPnBM nya," ujar Bambang.

Besaran pengurangan PPnBM, menurut Bambang, bervariasi tergantung pada kelas mobil yang diproduksi dan kondisi PPnBM saat ini. Pengurangan ini akan berlaku seterusnya, dengan syarat produsen mobil tersebut memproduksi sepenuhnya mobilnya di Indonesia. "Yang penting mobil itu diproduksi di Indonesia dan ini tidak berlaku untuk yang impor atau built up" jelas dia.

Tak Gunakan BBM Bersubsidi

Hidayat menjelaskan, selain mengatur penurunan PPnBM hingga 0%, perpres tersebut juga akan mengatur agar mobil-mobil LCGC tidak menggunakan BBM bersubsidi.

"Nanti kami atur di perpres agar mobil LCGC hanya bisa gunakan BBM dengan oktan di atas BBM bersubsidi. Jadi kalau pakai BBM bersubsidi, mobilnya akan cepat rusak," ungkap dia.

Keberadaan mobil LCGC ini, menurut dia, tidak akan mengganggu pengembangan mobil nasional. Pasalnya, segmen kedua mobil tersebut berbeda satu sama lain.

"Segmen mereka berbeda. Saya menganjurkan nanti kalau sudah bekerja (mobil nasional), mereka dapat bekerjasama dengan investor," jelas dia.

Hidayat menjelaskan, saat ini sudah terdapat enam produsen mobil yang siap membuat mobil nasional. Kementerian Perindustrian pun sudah mengumpulkan produsen mobil tersebut untuk menyusun spesifikasi bersama yang akan menjadi platform pengembangan mobil nasional.

"Kami memberikan kesempatan mereka untuk memproduksi mobil kecil di bawah 900 cc. Sebenarnya ada investasi dari luar yang mau masuk ke segmen itu, tapi saya suruh mereka menunggu," jelas Hidayat.

Produksi mobil di bawah 900 cc untuk mobil nasional dipilih karena jika produksi mobil nasional dilakukan dengan kapasitas besar, produsen mobil nasional akan berhadapan dengan produsen-produsen mobil besar yang sudah ada saat ini.

"Kalau mereka masuk dengan cc yang besar, itu langsung berhadapan dengan mobil yang kalian pakai seperti Honda dan Toyota, jadi langsung kalah. Maka harus step by step dan kita akan lindungi," tambah Hidayat. (nti)

 

sumber : Investor Daily

Share:

Twitter