BERITA INDUSTRI

Kenaikan DP Akan Hambat Penjualan Sepeda Motor


Rabu, 21 Maret 2012

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, kebijakan kenaikan uang muka (down paymentDP) kredit sepeda motor sebesar 20% akan berpengaruh pada minat konsumen untuk membeli kendaraan roda dua tersebut. Karena itu, kenaikan DP ini diprediksi bakal mengoreksi penjualan sepeda motor di 2012 ini.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulistyo mengatakan dengan kenaikan DP 20% maka jika harga motor Rp 15 juta, konsumen butuh uang muka Rp 3 juta. Tentunya angka itu sangat jauh dari biasanya yang hanya Rp 500.000. "Dampaknya pasti akan mengurangi kemudahan orang beli motor dan akan berdampak kepada penjualan sepeda motor. Rakyat kan beli motor untuk transportasi, kalau nggak pake motor pakai apa sekarang," kata Suryo di Jakarta, Selasa (20/3).

Suryo menjelaskan, dengan kenyataan itu sudah seharusnya pemerintah memperbaiki sistem infrastruktur transportasi massal. Sehingga masyarakat yang tak membeli kendaraan motor atau mobil bisa memanfaatkan fasilitas itu. "Melihatnya dari sisi mana, kalau dari sisi suatu yang sehat yang baik karena nggak terlalu mudah bayangin kita tub dibanjiri motor-motor yang nggak tahu setiap tahun berapa puluh juta, terlalu mudah lah orang beli motor, ya menambah kemacetan," tambahnya.

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat menambahkan, kenaikan DP akan berdampak terhadap proses awal transaksi. Setelah itu, lanjutnya, akan berjalan normal kembali. "Peraturan akan membuat sehat hubungan antara kreditur perbankan dan nasabah. Regulasi harus diperkuat. Beli kendaraan itu merupakan kebutuhan," ujar Hidayat.

Selain mengomentari soal kenaikan DP, Hidayat juga mengatakan, tinggiriya biaya produksi selama ini membebani dunia industri. "Dibutuhkan suatu perubahan, yakni efisiensi. Uhtuk itu, butuh pengorbanan atas kenikrqatankenikmatan yang dirasakan selama ini. Semua pihak. harus mau demi penguatan industri nasional," ucap Hidayat.

Menurut dia, kenikmatankenikmatan tersebut antara lain adalah suku bunga dan pungutan di pelabuhan. Dia menjelaskan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) saling sepakat untuk melindungi pasar dalam negeri melalui sweeping produk impor yang tidak berstandar.

Pengaruhi Daya Beli

Seperti diketahui setelah Bank Indonesia (BI) membatasi uang muka (DP) kredit motor minimal 25% dan mobil 30% di perbankan. Giliran kementerian keuangan membatasi DP kredit kendaraan di perusahaan multifinance atau leasing minimal 20% untuk motor dan 25% untuk mobil. Berarti batasan ini lebih rendah dari DP lewat bank.

Karena itu, lebih jauh Suryo menjelaskan, kenaikan DP kendaraan akan memengaruhi daya beli masyarakat. Tapi, lanjutnya, yang lebih penting bagaimana bisa agar pemerintah memberikan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat kecil. Selain mendorong penggunaan transportasi umum, dia juga mendesak pemerintah mengatasi kemacetan yang saat ini makin bertambah buruk. "Seperti kita tanu, kemacetan di Jakarta ini juga semakin parah kan. Betul-betul hampirgridock. Kalau begitu kan kita tidak bisa bergerak. Jadi kemacetan sudah sangat serius," jelasnya.

Adapun untuk para pengendara motor, kata dia, harus didukung oleh penciptaan lapangan pekerjaan. "Jadi intinya orangorang kan cari nafkah dengan sepeda motor ya, kita menciptakan lapangan kerja, makanya iklim usaha ini kita perbaiki. Menciptakan lapangan kerja yang ramah, jangan ada usaha belum sudah diganggu, dipalak pula," tandasnya.

Sementara itu Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyayangkan kenaikan DP kredit motor. Penghambatan penjualan motor untuk mengurangi kemacetan dengan menaikkan DP merupakan langkah yang tidak tepat. "Ini tidak tepat, jangan jadi alasan. Kemacetan itu terjadi akibat pengaturan lalu lintas yang tidak benar. Banyaknya pelanggaran, parkir sembarangan, infrastruktur, disiplin pengendara dan semua yang menyebabkan kemacetan," ujar Ketua AISI Gunadi Sinduwinata.

Gunadi juga menyampaikan, bagaimana bisa pertumbuhan perekonomian dengan meningkatnya penjualan roda dua bisa disalahkan menjadi penyebab kemacetan. Di sisi lain, roda dua merupakan jawaban sebagai Kbutuhan akibat kendaraan massal yang kurang memadai. "Tidak mungkin kendaraan itu lebih besar dari jumlah manusianya. Motor itu saya rasa mereka gunakan karena ada kepaksaan juga, seperti panas kepanasan, hujan kehujanan kecuali ada keperluan tertentu dan mendesak. Dan pada saatnya, angkutan massa akan berkembang, orang akan mencari yang paling nyaman untuk mereka beraktifitas," terangnya. 

sumber : Harian Ekonomi Neraca

Share:

Twitter