BERITA INDUSTRI

Industri Mesin Tunggu Proyek Infrastruktur


Senin, 25 Februari 2019

Sumber: Bisnis Indonesia (25/02/2019)

JAKARTA - Pelaku industri permesinan dan perlengkapan berharap pemerintah makin menggencarkan proyek infrastruktur guna mendorong pertumbuhan penjualan pada tahun ini.

Beberapa tahun belakangan ini, sektor tersebut tumbuh cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya karena proyek pemerintah mendorong permintaan produk permesinan dan perlengkapannya. Pada 2018, industri mesin dan perlengkapan tumbuh 9,49% secara year on year (yoy). Angka ini melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 5,55% y-o-y.

Dadang Asikin, Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), mengatakan pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh pengerjaan proyek infrastruktur.

"Diharapkan proyek infrastruktur akan mulai konstruksi lagi pada 2019 dan masih akan mendorong industri permesinan,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurutnya, pertumbuhan sektor ini ke depan pun masih akan dipengaruhi kebijakan pemerintah, apakah masih fokus di pembangunan infrastruktur atau justru ke sektor lain. "Kami lihat nanti kebijakan fokus pemerintahan 2 tahun sampai 3 tahun ke depan.”

Walaupun mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, komposisi produk impor di sektor mesin dan perlengkapan juga besar, terutama untuk produk noncritical equipment di beberapa sektor, seperti kelistrikan dan energi.

Produk yang diimpor untuk sektor kelistrikan dan energi terutama barang-barang modal, seperti komponen pembangkit, turbine generator, gear box, high pressure compressor, dan lainnya. Dadang menuturkan untuk komponen dengan tekanan dan kapasitas tinggi, kemampuan industri permesinan lokal belum mampu memenuhi sehingga komponen impornya besar.

Adapun, untuk peralatan kilang, khususnya barang-barang permesinan yang berputar (rotary equipment) juga masih didatangkan dari luar negeri.

"Kalau untuk static equipment dengan medium pressure, industri dalam negeri sudah mampu memfabrikasi. Beberapa fabrikator juga ada yang sudah mampu membuat static equipment yang bertekanan tinggi,” ujarnya.

Sektor lain seperti perkeretaapian dan pembangunan pelabuhan, industri mesin domestik telah mampu memenuhi kebutuhan sehingga impor dapat ditekan.

Dadang menilai kemampuan dan kapasitas produksi industri dalam negeri saat ini masih bisa ditingkatkan.

"Peningkatan ini bisa dipacu melalui program tingkat komponen dalam negeri [TKDN]. Pemerintah harus mendorong program ini dan memberikan prioritas industri nasional untuk berkembang terus,” kata Dadang.

Sementara itu, pemerintah menargetkan kontribusi industri pengolahan nonmigas di luar Jawa dapat mencapai 60% pada tahun ini.

Hal ini didorong oleh pembangunan dan pengoperasian kawasan industri di luar Jawa.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pembangunan kawasan indutsri di luar Jawa terus diakselerasi untuk mendorong perekonomian yang inklusif. Kementerian Perindustrian mencatat dalam rentang 2015-2018 terdapat 13 kawasan industri (KI) yang telah dibangun. Dari jumlah tersebut, per 31 Januari 2019 sebanyak 3 KI masih berada dalam tahap konstruksi.

Airlangga menjelaskan pengembangan kawasan industri baru di luar Jawa akan diarahkan pada sektor berbasis sumber daya alam. Potensi yang melimpah serta penerapan kebijakan hilirisasi membuat pemerintah optimistis kinerja industri di luar Jawa dapat didongkrak. (Annisa S. Rini/Wibi Pangestu Pratama)

 

 
Share:

Twitter