BERITA INDUSTRI

RI Berpeluang Isi Pasar Australia


Jumat, 9 Desember 2016

Sumber : Bisnis Indonesia (09/12/2016)

JAKARTA — Banyaknya produsen kendaraan yang menghentikan aktivitas produksi di Australia melahirkan peluang bagi industri kendaraan bermotor asal Indonesia untuk memperbesar cakupan pasar global.

Apalagi, saat ini pemerintah kedua negara tengah melakukan perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Perundingan itu ditargetkan akan tuntas pada tahun depan. Adanya perundingan ini akan membawa manfaat bagi perluasan pasar global kendaraan bermotor. Pemerintah akan melakukan komunikasi dengan pihak prinsipal agar bersedia untuk memberikan izin ekspor ke negara tersebut.

“Perluasan ekspor ke Australia bisa dilakukan selama ada persetujuan dari prinsipal. Tapi kami juga akan menarik industri di sana agar mau masuk ke Indonesia,” kata Dirjen Industri Mesin, Logam, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan kepada Bisnis, Kamis (7/12).

Tahun ini, sejumlah perusahaan otomotif memutuskan untuk mnutup pabriknya di Australia. Antara lain dua merek asal Amerika Serikat yakni Ford Motor Co dan General Motors Co, serta raksasa otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp.

Ford secara resmi telah menghentikan aktivitas produksi pada Oktober. Keputusan itu kemudian disusul oleh pabrik Holden milik General Motors dan Toyota yang akan menghentikan produksi pada tahun depan.

Dalam pembahasan IA-CEPA, ada sejumlah sektor prioritas antara lain pariwisata dan hospitality, pendidikan dan pelatihan, ketahanan pangan dan pasokan pangan global, kesehatan, ekonomi digital, e-commerce dan industri kreatif, serta infrastruktur dan energi.

Sektor otomotif memang belum menjadi prioritas dari perundingan itu. Pelaku industri meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan komunikasi guna mengisi kekosongan pasokan kendaraan bermotor.

IA-CEPA bisa menjadi alternatif di tengah ketidakpastian perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP). Apalagi secara geografis letak Indonesia dan Australia lebih dekat sehingga meringankan ongkos logistik.

PASAR POTENSIAL

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto menilai Australia merupakan pasar yang sangat potensial untuk dimasuki. Apalagi karakteristik konsumen di Australia tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Selain sedan, mayoritas masyarakat Negeri Kanguru itu menyukai mobil segmen sport utility vehicle (SUV), dan multipurpose vehicle (MPV). Ini sama dengan karakteristik pasar di dalam negeri, di mana dua segmen tersebut terus mengalami pertumbuhan.

“Peluang itu tentu ada, apalagi di Australia permintaan banyak untuk SUV. Memang MPV juga ada yang berminat tapi sedan tetap juga masih paling banyak,” kata dia.

Dia menambahkan, saat ini pemerintah dan pelaku industri harus mulai memperhatikan persyaratan dan spesifikasi kendaraan yang berlaku di Australia, sehingga memudahkan penyesuaian saat keran ekspor dibuka.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, eksportir kendaraan terbesar di dalam negeri meminta kepada pemerintah untuk  merealisasikan kerja sama itu, sehingga produsen tidak dibebani dengan hambatan baik dari sisi tarif maupun non-tarif.

“Ini merupakan peluang sangat besar, karena Australia pasarnya luas. Yang terpenting regulasi yang disepakati juga harus mendukung,” kata Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono.

Menurutnya, ada dua peluang yang bisa diisi oleh produsen kendaraan bermotor dengan adanya perjanjian ini, pertama mengisi pasar di negara tersebut dan kedua mengajak industri otomotif Australia untuk bermitra dan berinvestasi di Indonesia.

Terkait dengan spesifikasi dan regulasi yang berlaku di negara itu, menurut Warih pelaku industri bisa melakukan penyesuaian. Sebab selama ini produk yang diekspor selalu memenuhi standard dan kualitas yang diterapkan di negara tujuan.

Share:

Twitter