BERITA INDUSTRI

Industri Keramik Pangkas Utilisasi Hingga 50 %


Selasa, 13 September 2016

Sumber : Investor Daily

JAKARTA – Industri keramik memangkas tingkat pemanfaatan kapasitas produksi terpasang (utilisasi) sebesar 30-50%, seiring anjloknya penjualan dan tingginya stok barang jadi di gudang. Beberapa perusahaan keramik juga memangkas harga jual hingga 20% untuk memompa penjualan sekaligusmenguras stok.

Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga, mengatakan, penjualan industri keramik anjlok 40% pada kuartal III-2016. Padahal, pebisnis keramik sebelumnya berharap penjualan bangkit kuartal III, didorong pemulihan ekonomi nasional.

“Tapi, yang terjadi malah sebaliknya, situasi ekonomi dan kondisi pasar belum pulih, sehingga industri keramik semakin tertekan. Tahun lalu, penjualan industri keramik sudah merosot 30%, dan tahun ini penurunan malah tambah menjadi 40%,” kata Elisa

kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seiring dengan itu dia pesimistis target penjualan tahun ini sebanyak 400 juta meter persegi (m2) tercapai. Bahkan, jika kondisi pasar tetap stagnan, kemungkinan penjualan hanya 350 juta m2, jauh di bawah kapasitas produksi terpasang sebanyak 550 juta m2.

Asaki, kata dia, menagih janji pemerintah untuk menurunkan harga gas secepat mungkin. Meski harga gas tidak berpengaruh pada penjualan, paling tidak industri bisa bertahan dan memperluas pasar ekspor.

“Penurunan harga gas bermanfaat bagi beberapa pabrik yang sudah berat sekali menanggu biaya produksi. Setidaknya, dengan penurunan harga gas,mereka tidak melepas karyawan atau berhenti produksi,” kata Elisa.

Saat ini, dia mengatakan, industri yang masih bertahan memilih menurunkan harga jual hingga 15-20% atau di bawah biaya produksi. Jika harga gas turun, industri masih akan mendapatkan sedikit keuntungan, karena biaya produksi turun.

“Kalau harga gas tidak bisa direalisasikan, ada kemungkinan bisa deindustrialisasi. Saat ini, industri sudah mengurangi utilisasi hingga 30-50%. Sangat tidak baik kalau realisasi penurunan harga gas terlalu lama. Kita yakin sekali pemerintah akan merealisasikan penurunan tahun ini. Paling lambat kami harap paling tidak minggu ini,” kata Elisa.

Saat ini, dia menambahkan, stok keramik di gudang perusahaan mencapai 2-3 bulan produksi. Padahal, normalnya stok hanya 2 minggu hingga 1 bulan produksi. Bagi industri yang sudah tidak kuat, mereka memilih menghentikan produksi untuk sementara. Namun, ada juga yang menjual keramik di bawah harga produksi ke pasar.

 “Daripada setop total lebih besar biayanya, tapi kapasitasnya Tidak bisa penuh. Kami minta pemerintah memperhatikan kondisi seperti ini. Supaya industri keramik bisa bertahan” kata dia.

Insentif Gas

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajukan penambahan empat sektor industri baru penerima insentif penurunan harga gas, sehingga totalnya menjadi 11 dari sebelumnya tujuh. Empat sektor baru itu adalah tekstil produk tekstil (TPT) dan alas kaki, pulp dan kertas, makanan dan minuman, serta ban.

Adapun tujuh sektor yang telah disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya dan Mineral (ESDM) adalah pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Penurunan harga gas akan diatur oleh Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin). Perusahaan di sektor industri terkait bisa langsung mengajukan penurunan harga gas ke ESDM, setelah Permenperin dirilis.

Seiring dengan itu, realisasi penurunan harga gas kemungkinan molor. Kemenperin tidak keberatan dengan hal tersebut, karena efek dari insentif itu akan lebih luas. Insentif penurunan harga gas diatur dalam Paket Kebijakan Ekonomi Tahap III yang dirilis Oktober 2015.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, kontribusi 11 sektor itu terhadap industri pengolahan nonmigas sangat besar. “Jika diberi stimulus sedikit dengan penurunan harga gas, lari sektor-sektor itu semakin kencang,” kata Sigit, di Jakarta, belum lama ini.

Kemenperin, kata dia, juga meminta harga gas diturunkan hingga menjadi US$ 4 per million metric british thermal unit (mmbtu), lebih rendah dari kesepakatan sebelumnya US$ 6 per mmbtu. Dengan begini, diharapkan industri pengguna gas tumbuh pesat dan memiliki daya saing terutama terhadap produk impor.

Share:

Twitter