BERITA INDUSTRI

Industri Bioplastik Terganjal Bahan Baku


Selasa, 8 Maret 2016

Sumber : Kontan Harian

JAKARTA. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masih mengembangkan bioplastik dengan cita-cita plastik organik bisa menggantikan plastik dari kimia. Namun, produsen kemasan masih ragu, plastik ramah lingkungan itu efisien dan bisa dikonsumsi masyarakat.

Haris Munandar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemperin) mengatakan, industri bioplastik belum bisa dikembangkan dan belum bisa diproduksi skala industri. "Cukup sulit bioplastik menggantikan plastik yang ada saat ini," kata Haris kepada KONTAN, Senin (7/3).

Asal tahu saja, bahan baku bio plastik yang dipersiapkan adalah singkong, jagung, kentang dan tebu yang notabene adalah bahan pangan. "Untuk kebutuhan pangan saja, singkong kita impor. Belum lagi singkong untuk produksi alkohol," ucap Haris.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor singkong alias ubi kayu periode Januari Agustus 2015 mencapai 4.193,59 ton atau setara Rp 14,2 miliar. Adapun produksi singkong secara nasional diperkirakan mencapai 28 juta ton per tahun.

Selain kendala ketersediaan bahan baku, untuk memproduksi bioplastik terkendala biaya produksi. "Bioplastik dari singkong harganya lebih mahal," kata Haris.

Akan tetapi, dari sisi potensi ke depan, pengembangan kemasan bioplastik berbahan singkong maupun tanaman lainnya punya potensi dikembangkan. Apalagi tanaman organik yang digunakan adalah tanaman yang selama ini belum bernilai ekonomis.

Haris menyebutkan, China saat ini tak hanya memproduksi tas plastik dari bahan singkong saja, tetapi juga telah mengembangkan pemakaian singkong untuk sendok, dan alat cukur jenggot.

Pendapat yang senada juga disampaikan Budi Susanto Sadiman, Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas). Budi menyebutkan, saat ini penggunaan plastik bahan kimia belum bisa tergantikan oleh bioplastik.

Sejatinya, produk bioplastik seperti enviplast sudah ada di pasaran, tetapi tetapi volumenya tak bisa memenuhi kebutuhan pasar. "Sementara harga jualnya juga lebih mahal, selain itu sifatnya hanya sekali pakai," kata Budi.

Emir Yanwardhana

Share:

Twitter