BERITA INDUSTRI

Industri Telko Dapat Tax Holiday Untuk Meredam Impor Handphone


Jakarta - Pemerintah memberikan pembebasan atau pengurangan pembayaran pajak dalam waktu tertentu (tax holiday) kepada industri telekomunikasi, sebenarnya sebagai langkah untuk meredam volume impor telepon genggam (handphone).

"Tax holiday kita berikan pada perusahaan telekomunikasi karena melihat banyaknya impor handphone ke Indonesia, tapi sampai sekarang tidak ada perusahaan bidang telekomunikasi yang berinvestasi di Indonesia," tutur Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, usai rapat koordinasi di Kementerian Perekonomian, Senin (22/8).

Kondisi tersebut membuat pemerintah memutuskan menyisipkan sektor telekomunikasi menjadi salah satu penerima tax holiday untuk memancing minat perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi berinvestasi di Indonesia.

Pengalokasian tax holiday pada sektor telekomunikasi itu diberikan tanpa melihat rekam jejak perusahaan telekomunikasi asing yang sempat mendominasi perusahaan dalam negeri. Misalnya, Indosat.

Namun, dia menegaskan, tax holiday itu harus diberikan tanpa membedakan status perusahaan. "Apakah asing atau lokal, kalau investasi di Indonesia semua sama-sama perusahaan Indonesia, dapat tax holiday," tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengutarakan, industri telekomunikasi sebenarnya memiliki celah untuk dikembangkan melalui investasi baru.

Sebab, selama ini industri telekomunikasi mulai dari komponen, sub komponen, hingga perakitan sebagian besar mendatangkan bahan bakunya dari luar negeri. Misalnya, sistem jaringan serat optik, tiang, dan kabel bawah. Untuk belanja kerja industri telekomunikasi setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp150 triliun. "Sebagian besar impor," ujar Budi.

Oleh karena itu, tax holiday diharapkan dapat mengalihkan porsi impor itu menjadi investasi di pasar dalam negeri. Meski enggan menyebut nama perusahaan, Budi menuturkan, setidaknya beberapa perusahaan dari Eropa Barat, Korea Selatan, China, Jepang, dan Amerika Utara telah menyatakan minatnya berinvestasi dalam pembangunan industri komponen telekomunikasi. "Seperti perusahaan asal Amerika yang katanya mau investasi pembuatan radar dan CCB circuit box," katanya.

Untuk investasi langsung perusahaan yang memproduksi telepon genggam, dia mengaku, belum mengetahui secara pasti. Hanya, katanya, telah ada enam perusahaan merek terkenal yang sudah memasarkan produknya di Indonesia meski tanpa insentif tax holiday.

Selain telepon genggam dan komponen, perusahaan yang memproduksi net book bisa menikmati fasilitas tax holiday itu karena kategori industri telekomunikasi termasuk peralatan yang bisa digunakan untuk internet. "Intinya peralatan telekomunikasi yang bisa internet, kalau net book tergantung, bisa atau tidak buat internet," paparnya.

Berdasarkan data impor yang dirilis Kementerian Perdagangan, produk elektronika asal China menguasai pasar impor elektronik selama Januari-Mei 2011. Nilai impor barang elektronik asal negara itu mencapai US$ 559,8 juta atau 35,9% dari total angka impor pada periode itu yang mencapai US$ 1,55 miliar. Total impor periode Januari-Mei 2011 itu naik 11,95% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan nilai US$1,39 miliar.

Secara proporsi, China menduduki posisi pemasok impor Indonesia yang terbesar disusul Hongkong US$ 353,3 juta, Singapura US$ 334,8 juta, India US$ 113 juta, dan Korea Selatan US$ 72,8 juta. Penyumbang produk elektronik impor lainnya berasal dari Malaysia senilai US$ 66,6 juta, Thailand US$ 44,4 juta, Jepang US$ 2,6 juta, Amerika Serikat US$2,6 juta, dan Rusia US$ 1,6 juta.

Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Ali Soebroto Oentaryo menjelaskan, impor itu mencakup semua kategori produk elektronika. Seperti peralatan elektronik rumah tangga sampai teknologi informasi (TI). "Kenaikannya bukan elektronik saja, tapi handphone juga," tuturnya.

Dari porsi total nilai impor itu, sekitar 49% merupakan porsi telepon genggam. Disusul notebook dan sub net book sebesar 27% dan 24% dikontribusikan mesin cuci, lemari pendingin, lampu hemat energi, dan ratusan ragam produk lainnya.

Tingginya porsi impor telepon genggam dan net book, menurutnya, lantaran tidak adanya pabrik dalam negeri yang memproduksi barang itu. "Handphone belum ada produksi dalam negeri, impor semua. Notebook hampir tidak ada, hanya pabrik elektronik yang ada," paparnya.

Meski demikian, perusahaan dalam negeri bermerek global yang memiliki cabang di Indonesia juga mengekspor produknya ke negara lain. Sebagian besar produk berbasis teknologi informasi seperti printer.

 

Sumber: http://industri.kontan.co.id/v2/read/1314021548/75969/Industri-Telko-dapat-tax-holiday-untuk-meredam-impor-handphone

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM