BERITA INDUSTRI

Klaster Industri Petrokimia Pengembangan Industri Hilir di Banten


Jakarta - Provinsi Banten membutuhkan kehadiran industri hilir untuk melengkapi integrasi di klaster (kawasan) industri petrokimia. Ini perlu dilakukan agar tercapai efisiensi dan efektivitas, khususnya terkait biaya transportasi untuk distribusi barang. Sebab, selama ini industri petrokimia yang beroperasi di Banten baru di sektor hulu dan menengah, sedangkan industri hilir petrokimia kebanyakan di luar Banten.

"Pelaku usaha siap membentuk klaster industri petrokimia di Banten untuk menyatukan industri hulu-antara-hilir petrokimia. Kita hanya berharap pemerintah pusat memberikan dukungan berupa regulasi dan kepastian hukum," kata Ketua Bidang Olefin Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (INAplas) Suhat Miyarso di Jakarta, Kamis (22/9).

Menurut dia, industri hulu dan menengah petrokimia di Banten sedang mempersiapkan ekspansi usaha. Bahkan, sejumlah industri yang sebelumnya mati suri kini bisa beroperasi kembali, salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) yang sedang membangun pabrik butadiena dengan nilai investasi 120 juta dolar AS dan butana 1 dengan investasi 40 juta dolar AS. Selain itu, PT Nippon Shokubai Indonesia (produsen acrylic acid) juga sedang membangun pabrik super absorbent polymer (SAP) dengan investasi 400 juta dolar AS.

 

Pengembangan industri hilir tentunya akan mengintegrasikan industri petrokimia. Industri yang kini mulai bangkit, di antaranya pabrik purified terephtalic acid (PTA) milik PT Polyprima serta PT Polytama setelah sebelumnya sempat berhenti beroperasi.

"Industri petrokimia saat ini maju pesat. Ini dapat dilihat dari banyaknya investasi dan kegiatan baru, bahkan Pertamina juga ikut meramaikan sektor industri ini. Perbaikan iklim investasi di sektor ini kemudian mendapat respons cepat dari berbagai sektor pendukung, baik di sektor transportasi, perbankan, energi, dan lainnya," tuturnya.

Lebih jauh Suhat mengatakan, sektor industri petrokimia saat ini masih tergantung pada bahan baku nafta (produk turunan dari minyak bumi). CAP sendiri membutuhkan 1,7 ton per tahun nafta, namun sebagian besar dari impor.

"Kendala timbul justru dari peraturan daerah dan selama ini memang jadi batu sandungan ketika pelaku industri ingin berinvestasi. Untuk itu diperlukan terobosan dan fasilitas dari pemerintah pusat, salah satunya dengan memberikan tax holiday (pembebasan pajak) untuk industri petrokimia yang mampu menyerap banyak tenaga kerja," ucapnya. 

 

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=287318

Share:

Berita Serupa