BERITA INDUSTRI

Harita Group Investasi Smelter Rp 10 Triliun


sumber : Investor Daily

JAKARTA - Keluarga Lim, salah satu taipan terkaya Indonesia, membangun pabrik pengolahan (smelter) bauksit menjadi alumina senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 10 triliun di Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk membangun smelter berkapasitas produksi 2 juta ton per tahun itu, keluarga Lim melalui Harita Group yang menjadi pengendali PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) menggandeng China Hongqiao Group Ltd.
Cita Mineral dan Hongqiao membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama PT Well Harvest Winning (Well Harvest) bersama Winning Investment Co Ltd dan PT Danpac Resource Kalbar. "Proyek ini akan menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja. Pada pertemuan tadi, kami meminta waktu kepada Pak Menteri Perindustrian (Menperin) untuk hadir dalam acara peletakan batu pertama pabrik tersebut," kata Chief Executive Officer (CEO) Harita Lim Gunawan Haryanto usai menemui Menperin MS Hidayat di Jakarta, Kamis (4/7).
Harita saat ini menggarap bisnis pertambangan dan perkebunan. Konglomerasi tersebut memiliki unit usaha di sektor pertambangan nikel, bauksit, perkebunan kelapa sawit, dan batubara. Salah satu mesin uang Harita adalah Bumitama Agri, perusahaan kelapa sawit yang tahun lalu masuk bursa Singapura.
Kapitalisasi pasar Bumitama kini mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.
Laporan Bloomberg menyebutkan, total kekayaan keluarga Lim mencapai US$ 1,8 miliar. Adapun kekayaan Lim Hariyanto versi majalah Forbes sekitar US$ 1 miliar yang menempatkannya di posisi 30 daftar orang terkaya Indonesia tahun lalu.
Sementara itu, berdasarkan dokumen keterbukaan informasi yang disampaikan PT Cita Mineral Investindo Tbk kepada otoritas pasar modal, Cita Mineral Investindo pada 30 April 2012 meneken perjanjian dengan China Hongqiao Group Ltd dan Winning Investment Co Ltd terkait kerja sama dan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian alumina melalui PT Well Harvest Winning Alumina Refinery yang sebelumnya bernama PT Kemakmuran Panen Raya. Perjanjian itu direvisi pada 27 Desember 2012 dengan memasukkan
PT Danpac Resource Kalbar sebagai pemegang saham lainnya.
China Hongqiao Group Ltd disebutkan terdaftar di Cayman Islands, sedangkan Winning Investment Co Ltd berkedudukan di Hong Kong. Adapun PT Cita MineraI lnvestindo Tbk dan PT Danpac Resource Kalbar masing-masing berkedudukan di Jakarta. Di perusahana patungan itu, Hongqiao menguasai 60% saham, Winning Investment 10%, Cita Mineral 25%, dan Danpac 5%.
Cita Mineral Investindo tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 20 Maret 2012. Pemegang saham emiten bersandi CITA itu adalah PT Suryaputra Inti Mulia (6,38%), Richburg Enterprise Pte Ltd (73,15%), PT Harita Jayaraya (17,32%), dan publik (3,14%). Cita memiliki sejumlah anak perusahaan yang seluruhnya bergerak di sektor pertambangan, di antaranya PT Harita Prima Abadi Mineral dengan kepemilikan 90%, PT Karya Utama Tambangjaya (89,73%), dan PT Kemakmuran Panen Raya (99,96%).
Pasok Inalum
Menurut Lim Gunawan Haryanto, pembangunan smelter akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dijadwalkan pada pertengahan Juli 2013 dan ditargetkan rampung pada 2015.
Kapasitas produksinya mencapai 1 juta ton per tahun dengan nilai investasi US$ 500 juta. Selanjutnya, pembangunan tahap kedua dilakukan pada 2016.
Kapasitas dan nilai investasinya sama dengan tahap pertama. Alumina produksi Well Harvest, kata Lim Gunawan, akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk memasok PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).
"Kalau ada sisanya, baru kami ekspor. Harganya akan disesuaikan dengan market," ujar dia. Inalum adalah usaha patungan Pemerintah RI dengan Jepang. Pemerintah RI memiliki 41,13% saham PT Inalum, sedangkan Jepang menguasai 58,87% saham melalui konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA).
Konsorsium NAA dipimpin Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan beranggotakan 12 perusahaan swasta Jepang.
Pemerintah RI bakal mengambilalih 100% saham Inalum dari Jepang per 1 November 2013. Berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kontrak kerja sama pengelolaan Inalum akan berakhir pada 31 Oktober 2013. Untuk mengambil alih perusahaan aluminium itu, pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 7 triliun. Selama ini, 60% produk alumunium batangan yang diproduksi Inalum diekspor ke Jepang.
Sebaliknya, Indonesia justru mengimpor hasil industri aluminium. Alumina adalah komoditas hasil olahan dari bauksit. Produk ini menjadi bahan baku industri aluminium hulu dengan produknya antara lain aluminium ingot. Indonesia merupakan salah satu produsen bauksit terbesar di dunia. Saat ini, total jumlah cadangan bauksit terbukti di Tanah Air mencapai 108 juta ton. Namun, sekitar 15 juta ton diekspor setiap tahun dalam bentuk mentah, kendati kebutuhan di dalam negeri sangat besar. Nilai tambah hasil  pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina sangat tinggi, bisa mencapai 20 kali lipat. Apalagi jika alumina sudah diolah menjadi aluminium ingot.
Program Hilirisasi
Sekretaris Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Anshari Bukhari mengungkapkan, investasi Harita dan mitranya dari Tiongkok sejalan dengan penerapan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). UU ini melarang ekspor mentah barang tambang mineral mulai 2014, dengan mewajibkan pengolahan dilakukan di dalam negeri.
"Pabrik Harita atau Well Harvest akan dapat memenuhi kebutuhan alumina dalam negeri sebanyak 500 ribu ton per tahun. Jika sudah beroperasi, pabrik Harita akan menjadi pabrik pertama di dalam negeri yang memproses bauksit menjadi alumina. Selama ini, Harita mengekspor bauksit ke Tiongkok," tutur dia.
Anshari menambahkan, guna mendukung investasi tersebut, Harita akan mengajukan permohonan fasilitas insentif berupa pembebasan pembayaran pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) dan dukungan ketenagakerjaan.
"Pengajuan tersebut kami akan pelajari sesuai aturan yang berlaku. Pada prinsipnya, kami mendukung program hilirisasi minerba agar bisa segera dilaksanakan. Investasi ini diharapkan bisa menekan ketergantungan impor, sehingga akan memperkuat struktur industri alumunium yang terintegrasi antara industri hulu dan hilir di dalam negeri," papar Anshari.
Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto menambahkan, investasi Harita merupakan langkah riil mendukung peta jalan (roadmap) pembangunan industri logam terintegrasi dari hulu, antara, hingga hilir. Dengan investasi itu, rantai pasok ke industri hilir berbasis aluminium di dalam negeri akan terjamin. "Ke depan, pembangunan industri hilir aluminium akan semakin ditingkatkan," tandas Panggah.
Berdasarkan pemetaan Kemenperin, pengembangan klaster industri aluminium difokuskan di Sumatera Utara dan Kalimantan Barat. Untuk kawasan Sumatera Utara, PT Inalum dijadikan sebagai champion. Inalum saat ini memproduksi aluminium ingot berkapasitas 240 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku alumina sebanyak 480 ribu ton per tahun. Pabrik tersebut berpotensi dikembangkan hingga mampu berproduksi 500 ribu ton per tahun dengan kebutuhan alumina sebanyak 1 juta ton per tahun.
Untuk daerah Kalimantan Barat yang memiliki deposit bauksit cukup besar, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) bersama dua hingga tiga perusahaan lainnya dipilih menjadi champion.
Perusahaan-perusahaan tersebut mengolah bauksit menjadi alumina untuk memasok bahan baku ke Inalum dan diekspor. Klasterisasi industri aluminium ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri hilir di Sumatera Utara, termasuk mendukung industri sejenis di Jawa.
Guna memacu investasi hilir aluminium, pemerintah memberikan sejumlah insentif, di antaranya pembebasan pembayaran pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday), keringanan pajak (tax allowance), dan pembebasan bea masuk (BM) berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 176/2009 atas Impor Mesin serta Barang dan Bahan untuk Pembangunan atau Pengembangan Industri dalam rangka Penanaman Modal.
Kemenperin mencatat, setidaknya ada tiga investor yang akan berinvestasi pada industri pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dengan total investasi US$ 2,25 miliar.

Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM