Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

BERITA INDUSTRI

BlueScope dan Nippon Steel Bentuk Joint Venture US$1,36 Miliar


sumber : Indonesia Finance Today

JAKARTA - PT NS BlueScope Indonesia, produsen baja lapis seng dan aluminium asal Australia, meresmikan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dengan produsen baja asal Jepang, Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation, yakni NS BlueScope Coated Products. Sanjay Dayal, Chief Executive Officer NS BlueScope Asia, menuturkan perusahaan tersebut akan beroperasi di tujuh negara di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Utara, dengan nilai investasi patungan sebesar US$ 1,36 miliar.
"Kerjasama joint venture ini merupakan bagian dari strategi pertumbuhan bisnis, kami berkomitmen untuk terus mendukung industri konstruksi Indonesia," kata Dayal. Dalam kerjasama tersebut, BlueScope dan Nippon Steel masing-masing menguasai 50% saham.
Dayal menuturkan, kerjasama patungan akan membawa berbagai produk serta inovasi baru dalam industri baja aluminium. Hal itu seiring tujuan perusahaan meraih pangsa pasar yang lebih luas di pasar bangunan dan konstruksi, serta memasuki pasar peralatan rumah tangga.
"Produk perusahaan patungan ini meliputi baja lapis dan rollforming untuk suplai di Asia Tenggara dan Amerika Utara," kata Dayal.
Cheong Ku Wei, Country President NS BlueScope Indonesia, menuturkan ekspansi yang dilakukan perusahaan melalui kerjasama patungan merupakan langkah untuk mendukung posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri baja dunia.
Sebagai langkah konkret, saat ini NS BlueScope tengah menyelesaikan ekspansi pabrik di Makassar, Semarang, Palembang, dan Pekanbaru. "Kami juga tengah menjajaki untuk pembangunan pabrik di beberapa lokasi, antara lain di Balikpapan dan Manado," ujar Wei.
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), emiten produsen baja milik pemerintah, tahun ini membangun pabrik hasil kerjasama patungan dengan Pohang Iron and Steel Company (Posco). Pembangunan pabrik yang berlokasi di Cile-gon hingga saat ini telah mencapai 90%, dan siap memasuki persiapan uji coba operasional.
"Pabrik tersebut ditargetkan siap beroperasi pada akhir tahun ini," kata Irvan Kamal Hakim, Direktur Utama Krakatau Steel. Adapun investasi yang telah terserap untuk pembangunan pabrik KS-Posco tahap pertama ini nilainya mencapai US$ 3 miliar.
Pabrik tersebut akan menghasilkan slab baja sebanyak 3 juta ton per tahun. Sekitar 1,5 juta ton slab akan diolah menjadi pelat baja (hot rolled plate/ HRP) dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di Krakatau Steel.
MS Hidayat, Menteri Perindustrian, mengatakan realisasi pembangunan pabrik baja KS-Posco pada akhir tahun ini diharapkan dapat mensubstitusi dan mengurangi ketergantungan penggunaan baja impor hingga 40%. Saat ini 80% bahan baku baja masih mengandalkan pasokan impor.
Dia mengatakan, kebutuhan baja dalam negeri setiap tahun diperkirakan tumbuh 8%-9%. Hal itu dinilai dapat memberi prospek investasi. Selain itu, tingkat konsumsi baja per kapita berpotensi terus meningkat dari 48 kilogram pada 2010 menjadi 52 kilogram pada 2015. "Peningkatan permintaan produk baja antara ditopang dari pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)," ujar Hidayat.
Selain itu. gun a menarik investasi di sektor industri logam dasar, pemerintah menyediakan insentif fiskal, seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk atas impor mesin serta barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal.

Share: