BERITA INDUSTRI

Ekspor Mebel Ditargetkan Capai USD2 Miliar


JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan ekspor mebel tahun ini bisa mencapai USD2 miliar, ditopang oleh pemulihan ekonomi dunia. Saat ini, nilai ekspor mebel Indonesia kira-kira mencapai USD1,6 miliar dengan negara tujuan utama Amerika Serikat (AS), Francis, Jepang, Inggris dan Belanda.
"Saya kira pertumbuhan industri kayu akan melonjak tinggi, karena market sudah mulai normal," kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di Jakarta baru-baru ini.
Hidayat optimistis peningkatan nilai ekspor mebel bisa dicapai seiring pasar global yang terus menunjukkan pemulihan. Menurut dia, pasar tradisional Eropa, termasuk Eropa Timur, pasar AS, Jepang, dan Timur Tengah juga semakin membaik. Hidayat menilai, dengan kondisi demikian, ekspor mebel bisa mulai mendekati angka yang sama sebelum krisis ekonomi dunia pada 2008.
"Sebelum 2008, saat krisis keuangan itu, (ekspor mebel kita) sekitar USD2,2 miliar. Kemudian turun hingga USD1,5 miliar. Sekarang ini kira-kira USD1,6 miliar tapi bisa menuju ke USD2 miliar," paparnya.
Menperin mengatakan, ekspor mebel Indonesia pada 2012 mencapai USD1,41 miliar, ditopang oleh peningkatan ekspor rotan yang drastis hingga mencapai 41% dan USD143 juta pada 2011 menjadi USD202 juta pada 2012. Dia menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan yang tak tersaingi oleh negara lain untuk mengembangkan industri mebel, yakni produksi kayu tropis lokal yang melimpah.
Namun, Hidayat mengatakan, perlu adanya inovasi desain produk yang lebih bisa dipasarkan untuk konsumen internasional. Inovasi, selain bisa digunakan untuk meningkatkan daya saing produk untuk dipasarkan, juga mendorong hilirisasi yang terus digalakkan pemerintah.
"Kita butuh inovasi dari desain kita yang bisa marketable, kerja sama dengan konsultan atau desainer asing buat saya sangat dianjurkan agar seluruh produk bisa marketable," tukasnya.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menambahkan, industri mebel Indonesia seharusnya bisa menjadi yang termaju dan terdepan karena didukung oleh sejumlah keuntungan geografis. "Tidak ada alasan industri mebel di Indonesia tidak maju. Indonesia punya banyak keuntungan. Kita punya banyak jenis tanaman yang bisa segera dipanen, misalnya sengon yang bisa kita panen dalam lima tahun, padahal di negara lain sengon barubisa dipanen setelah 100 tahun," tuturnya.
Sementara, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia selaku penyelenggara International Furniture & Craft Fair Indonesia (Iffina) 2013 menargetkan pameran tersebut meraup transaksi hingga USD400 juta. "Target transaksi kali ini naik dari pencapaian tahun lalu yang sekitar USD300 juta," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono.
Pameran tahunan yang diadakan sejak enam tahun yang lalu itu menghadirkan 20.000 peserta dan sedikitnya 4.000 pembeli dari 150 negara.

sumber : Koran Sindo

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM