BERITA INDUSTRI

2012, Indonesia Impor Batik Senilai Rp 285 Miliar


JAKARTA, (PR)  Tahun 2012, Indonesia mengimpor kain batik dan produk jadi batik dari Cina dengan nilai 30 juta dolar AS atau Rp 285 miliar. Ironis, padahal batik identik dengan karya Indonesia.

Bahkan, menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, serbuan barang tekstO, khususnya batik dari Cina, sudah terjadi sejak 4 tahun yang lalu. "Oh sudah lama itu. Itu sudah 34 tahun lalu, dan sampai ke daerahdaerah pasarannya," tutur Ade, di Jakarta, Rabu (20/2).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari Cina ke Indonesia dengan nilai 30 juta dolar AS.

Impor terbesar adalah untuk jenis kain tenmrdicetak batik, yaitu sebanyak 677,4 ton de
ngan nilai 23,3 juta dolar AS dan kain tenun yang dicetak dengan proses batik sebanyak 199,2 ton dengan nilai 1,8 juta dolar AS pada 2012 lalu.

Masuknya impor produk batik ini terbesar terjadi pada Juli 2012 yaitu sebanyak 106,7 ton dengan nilai 3,6 juta dolar AS dan pada Desember 2012 sebanyak 87,4 ton dengan nilai 3 juta dolar AS.

Namun, Ade mengatakan, serbuan batik impor dari Cina ini adalah batikbatik yang tergolong murah. Tak heran, batikbatik ini sangat digandrungi oleh masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. "Harganya per meter paling Rp 20.000, untuk jadi kemeja lengan panjang paling dibutuhkan sekitar 1,21,5 meter. Jadi paling harganya sekitar Rp 28.000, murah," tutur Ade.

Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun kaget terkait dengan impor batik dari Cina tersebutt "Kok bisa batikbatik itu datang dari Cina," Kata Alex.

Alex mengatakan, ini adalah ancaman untuk para pelaku usaha batik di dalam negeri. Menurut dia, pemerintah akan berupaya untuk melindungi para pelaku usaha batik dalam negeri.

Semakin terpuruk

Menurut Ade Sudrajat, selain jenis kain batik, ada juga beberapa bentuk,barang jadi seperti jaket, blazer, eelana, baju untuk perempuan dan lakilaki, serta sapu tangan, syal, scarf, dan dasi dari proses batik.Ade menambahkan, industri tekstil dan produk tekstil di dalam negeri semakin terpuruk karena pasar Indonesia semakin digempur oleh barang impor. Hal ini semakin memberatkan para pengusaha di sektor ini selain masalah upah buruh serta kenaikan harga gas dan listrik yang harus ditanggung,

"Sampai saat ini ya kita makin terpuruk. Pangsa pasarnya diambil alih oleh mereka (impor) karena barang mereka lebih murah, walaupun kualitas kita lebih baik," ucapnya.

Ade mengatakan, nilai impor tekstil tahun ini diperkirakan mencapai 8 miliar dolar AS atau naik dari nilai impor tahun lalu yang mencapai 7 miliar dolar AS. "Ekspornya malah diperkirakan turun. Tahun lalu 12,8 miliar dolar, tahun ini diperkirakan 12,5 miliar dolar," katanya.

Menurut Ade, untuk meningkatkan daya saing industri tekstil, bukan hanya peran dari pelaku usaha yang dibutuhkan, tetapi pemerintah pun memiliki andil besar dalam hal ini.

"Kita sudah free trade (perdagangan bebas), jadi kita harus berjuang, dan pemerintah juga harus berjuang memberi pelayanan, logistik, dan sebagainya karena ini bukan hanya antar pengusaha, tetapi juga G to G (government to government)," tuturnya.

sumber : Pikiran Rakyat

Share:

Twitter