BERITA INDUSTRI

RI-Jerman Kembangkan Rotan


Jakarta | PUSAT Inovasi Rotan Nasional (Pirnas) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Innoyationszentrum Uchtenfels Jerman, Rabu (20/2), melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pengembangan inovasi rotan. "Dengan ditandatanganinya MoU ini, menjadi dasar bagi kerjasama yang luas dalam pengembangan sektor industri di kedua negara, khususnya dalam pengembangan inovasi rotan dan aspek lain yang terkait," kata Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin di Jakarta, Rabu (20/2).
"Berbagai bentuk kerja sama yang akan dilakukan antara lain pengembangan teknologi,
desain, pemasaran, pendidikan dan pelatihan, kerja sama riset, workshop, seminar internasional, mediasi bisnis, penelitian dan pengembangan, serta kerja sama kelembagaan," katanya
Lebih lanjut Dedi menjelaskan kebijakan pemerintah menutup ekspor bahan baku rotan sejak awal tahun 2012 dalam upaya mendorong tumbuh dan berkembangnya hilirisasi industri rotan, telah memberikan dampak positif bagi industri rotan Indonesia.
Meskipun pada tahap awal kebijakan tersebut kurang menguntungkan bagi para pengumpul rotan di daerah/perdesaan, karena kehilangan mata pencaharian, narnun dalam jangka panjang diyakini mampu mendorong terjadinya hilirisasi industri rotan, yang pada akhirnya akan menciptakan penyerapan tenaga kerja di daerah/perdesaan.
"Berdasarkan data Laporan Surveyor (LS), nilai ekspor produk rotan pada periode 1 Januari s/d 30 September 2012, telah mencapai lebih dari US$157 juta. Nilai ekspor rotan yang cukup tinggi tersebut di-sumbang dari ekspor produk furnitur rotan senilai USS 118,532 juta dan anyaman rotan senilai US$39,250 juta. Sedangkan, total ekspor produk rotan pada tahun 2011 hanya sebesar US$100 juta," ujar dia.
Beberapa faktor yang turut mendorong peningkatan ekspor produk jadi rotan pada 2012
antara lain karena menurunnya produksi furnitur rotan China yang tidak lagi memiliki bahan baku rotan impor, beberapa negara kompetitor juga tidak dapat memenuhi order furnitur rotan dan meminta produsen Indonesia. untuk memenuhi order tersebut.
"Kami menyadari bahwa kebijakan penghentian ekspor bahan baku rotan masih menyisakan permasalahan, yaitu belum semua bahan rotan dapat diserap oleh industri produk jadi rotan di dalam negeri, karena tidak semua jenis dan ukuran rotan dapat dipergunakan oleh industri furnitur rotan dalam negeri," katanya.
Lanjutnya, "Saat ini ukuran yang banyak dipakai adalah diameter 15-30 mm, sehingga pada tataran industri hulu yang mengolah rotan asalan menjadi rotan poles, menumpuk rotan diatas ukuran 30 mm dan dibawah ukuran 15 mm yang tidak diserap oleh industri furnitur rotan di Pulau Jawa dan menyebabkan para pengusaha kesulitan modal kerja bahkan merugi," katanya.
Pada tahap awal, Pirnas sudah mencoba membuat desain dan prototipe produk furnitur yang berbasis papan rotan dan rotan belah, serta dilakukan uji pasar pada pameran furnitur terbesar di Eropa, yaitu di International Mebel Messe (IMM) di Cologne-Jerman, pada tang-gal 14 s/d 20 Januari 2013.

sumber : Jumal Nasional

Share: