Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

SIARAN PERS

Kemenperin Mendorong Pengembangan Industri Rotan Melalui Pendirian PIRNas


 

 

 

Siaran Pers

 

Kemenperin Mendorong Pengembangan Industri Rotan Melalui Pendirian PIRNas

 

 

 

Jakarta, Senin, 28 Januri 2013 – Sebagaimana diketahui bahwa setiap tahun Indonesia menyuplai sekitar 85% kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah itu, 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Meski memiliki keunggulan komparatif, industri furniture berbahan baku rotan di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing produk di pasar global, terutama dengan furniture rotan buatan China, Taiwan, dan Eropa. Untuk itu, pelaku industri dituntut untuk meningkatkan nilai tambah produk maupun pemanfaatan jenis rotan dengan penguasaan desain, teknologi produksi, finishing, dan branding.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI), mendirikan Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas) di Palu. Pendirian PIRNas untuk mendorong industri rotan nasional melalui penemuan-penemuan (invensi) teknologi dan pengembangan desain produk rotan yang sesuai dengan selera pasar dalam negeri maupun global. Untuk memperkuat peran PIRNas maka dilakukan kerjasama kemitraan dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Tadulako Palu, dan asosiasi industri yang bergerak di bidang industri furniture rotan dan kayu.

 

Dirjen PPI Kemenperin Dedi Mulyadi mengatakan, PIRNas telah membuat desain dan proto type produk furniture, yang berbasis papan rotan dan rotan belah, serta dilakukan uji pasar pada pameran furniture terbesar di Eropa, yaitu International Mebel Messe (IMM) di Cologne-Jerman, pada 14 – 20 Januari 2013. “PIRNas telah mendapatkan penemuan teknologi proses dengan memanfaatkan semua ukuran rotan untuk diproses menjadi papan rotan laminasi (laminated rattan board/rattan wood), sehingga semua rotan dapat dimanfaatkan untuk industri,” jelasnya.

 

Dengan keikutsertaan pada pameran tersebut, Dirjen PPI mengatakan, terlihat respon pasar yang positif terhadap penemuan atau invensi teknologi dan proses dari industri furniture nasional. Dari sekitar 500 orang calon pembeli, terdapat 20 orang pembeli potensial dan 8 orang pembeli prospektif, yang berasal dari Jerman, Turki, Malaysia, Amerika, Israel, Inggris, dan Belanda, dengan volume 850m³ (34 container) atautotal nilai sebesar Rp. 17 Milyar, dengan tahap awal US$ 2 juta. Adapun nilai transaksi langsung seluruh peserta pameran dari paviliun Indonesia sebesar US$ 1.075.200 dan order sebanyakUS$ 1.283.000

 

Dalam kaitan ini, akan dilakukan pembahasan draft kerjasama (MOU) antara PIRNas dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman dan Museum Rotan Jerman, dan untuk menindaklanjuti prospek bisnis tersebut, akan dilakukan kerjasama kemitraan dengan pengusaha industri dalam negeri.Dalam waktu dekat, PIRNas akan melakukan MOU dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman di Jakarta, sebagai upaya meningkatkan kualitas dan selera pasar Eropa,” kata Dirjen PPI.

 

Dengan adanya penemuan teknologi proses, akan menambah perspektif tentang pemanfaatan rotan, yang selama ini rotan hanya dipergunakan untuk furniture dan kerajinan, tetapi saat ini dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan industri, seperti komponen bahan bangunan (lantai, dinding, plafon, kusen, daun pintu, dan lain-lain), kerajinan, perlengkapan rumah tangga, furniture, alat musik dan, dekorasi interior.                           

 

Selain papan rotan laminasi, PIRNas juga mengembangkan penemuan struktur rotan belah (Half Pole Structure), yang selama ini penggunaan rotan untuk furniture dalam bentuk batangan utuh, sesuai dengan bentuk dan desain yang diinginkan. Namun dengan adanya penemuan rotan belah, maka penggunaan bahan rotan untuk furniture akan lebih effisien. Perlu diketahui, program-program PIRNas yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha meliputi: seminar, workshop, pelatihan, mediasi bisnis, penelitian dan pengembangan, serta kerjasama kelembagaan.

 

Dapat diinformasikan bahwa Laporan Surveyor (LS), nilai ekspor produk rotan pada periode 1 Januari – 30 september 2012, telah mencapai USD 157 Juta atau naik sekitar 57% dibanding tahun 2011 sebesar USD 100 juta. Nilai ekspor rotan tahun 2012 yang cukup tinggi tersebut disumbang dari ekspor produk furniture rotan senilai USD 118,532 juta dan anyaman rotan senilai USD 39,250 juta. Beberapa faktor yang mendorong peningkatan ekspor produk jadi rotan pada tahun 2012 antara lain menurunnya produksi furniture rotan China karena tidak lagi memiliki bahan baku rotan impor, dan beberapa negara kompetitor juga tidak dapat memenuhi order furniture rotan dunia sehingga meminta produsen Indonesia untuk memenuhi order tersebut.

 

Kebijakan pemerintah menutup ekspor bahan baku rotan sejak awal tahun 2012 sebagai upaya mendorong tumbuh dan berkembangnya hilirisasi industri rotan, juga telah memberikan dampak positif bagi industri rotan Indonesia. Industri furniture berbasis rotan merupakan salah satu industri yang memiliki nilai tambah tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja serta memberikan kontribusi cukup penting terhadap perekonomian.

 

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan. 

 

 

 

Jakarta, 28 Januari 2013

 

Kepala Pusat Komunikasi Publik

 

 

 

Hartono

 

 

 

 
Share: