BERITA INDUSTRI

Industri Padat Karya Jadi Prioritas


JAKARTA - Pengembangan industri padat karya masih menjadi prioritas pada tahun 2013. Industri ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja yang besar dan menyumbang sepertiga pertumbuhan industri di Tanah Air.

"Industri padat karya memberi kontribusi sekitar 30 persen pertumbuhan industri nasional," kata Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Anshari Bukhari, beberapa waktu lalu.

Saat ini dari 108 juta tenaga kerja yang bekerja pada industri pengolahan di Tanah Air, sekitar 14,6 juta orang bekerja di sektor industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, serta industri kecil dan menengah.

Anshari mencontohkan investasi industri alas kaki 10 juta dollar saja mampu menyerap tenaga kerja hingga 10 ribu orang.

Oleh karena itu, pemerintah, dalam hal ini Kemenperin, masih akan mengembangkan industri padat karya. "Industri padat karya tidak akan pernah menjadi sunset industry (industri yang akan ditinggalkan)," ujar dia.

Guna melindungi keberadaan dan pengembangan industri padat karya, Kemenperin telah memperjuangkan agar industri tersebut mendapat penangguhan dari kebijakan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2013.

Bahkan, pihaknya juga telah mengusulkan insentif pajak penghasilan (PPh21) dan pajak badan (PPh25) untuk industri padat karya. "Kami telah mengusulkan agar PPh25 untuk industri padat karya setidaknya turun sekitar lima persen," kata dia.

Sedangkan insentif PPh21 yang biasanya dibayarkan perusahaan, diharapkan juga turun sesuai dengan penghasilan tidak kena pajak. "Kalau masalah kenaikan UMP ini ada solusinya, kami yakin industri nasional tahun depan bisa tumbuh 7,4 persen," kats Anshari.

Kadin Pesimistis

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Kadin, Bambang Sujagad, pesimistis target pertumbuhan industri tahun 2013 sebesar 7,1 persen tercapai karena sektor tersebut dibebani kenaikan tarif dasar listrik dan upah buruh.

"Saya kira target itu tidak akan tercapai karena beban kenaikan tarif dasar listrik dan upah buruh akan sangat berpengaruh pada sektor industri, terutama industri kecil menengah dan padat karya," kata dia.

Bambang mengatakan sektor industri akan mengalami kondisi yang sulit karena dihadapkan dengan kenaikan TDL dan upah buruh. Kedua hal itu, menurut dia, akan menghambat pertumbuhan industri di tahun depan.

Bambang mencontohkan beban produksi dari upah dan bahan baku sudah mencapai 85 persen sehingga, menurut dia, keuntungan yang didapatkan pengusaha sangat kecil karena belum ditambah dengan biaya lain.

"Misalnya infrastruktur yang buruk dan masih adanya pungutan liar bisa menurunkan daya saing. Jadi, mana bisa ditargetkan tujuh persen," ujar dia.

sumber : Koran Jakarta

Share:

Twitter

Indonesia Industrial Summit 2018