Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

BERITA INDUSTRI

Pengembangan Industri Padat Karya Diprioritaskan


JAKARTA - Pengembangan industri padat karya masih menjadi prioritas pemerintah pada tahun 2013. Pasalnya, industri itu dinilai mampu menyerap tenaga kerja yang besar dan menyumbang sepertiga pertumbuhan industri di Tanah Air.

"Industri padat karya memberi kontribusi sekitar 30 persen pertumbuhan industri nasional," kata Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Anshari Bukhari, di Jakarta, Selasa (25/12).

Ia mengatakan saat ini, dari 108 juta tenaga kerja yang bekerja pada industri pengolahan di Tanah Air, sekitar 14,6 juta orang bekerja di sektor industri padat karya, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, serta industri kecil dan menengah.

Anshari mencontohkan investasi industri alas kaki sebesar 10 juta dollar AS saja mampu menyerap tenaga kerja hingga 10 ribu orang.

Oleh karena itu, pemerintah, dalam hal ini Kemenperin, lanjut dia, masih akan mengembangkan industri padat karya. "Industri padat karya tidak akan pernah menjadi sunset industry (industri yang akan ditinggalkan)," ujar dia.

Menurut dia, bahkan perbankan nasional sudah sepakat bahwa industri padat karya, termasuk tekstil, tidak akan dinyatakan sebagai sunset industry sehingga sulit mendapatkan kredit modal kerja.

"Kami telah sepakat dengan perbankan, penilaian sunset industry bukan per sektor, tapi berdasarkan penilaian terhadap perusahaan," ujar dia.

Guna melindungi keberadaan dan pengembangan industri padat karya, Kemenperin, lanjut Anshari, telah memperjuangkan agar industri tersebut mendapat penangguhan dari kebijakan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2013.

Bahkan pihaknya telah mengusulkan insentif pajak penghasilan (PPh21) dan pajak badan (PPh25) untuk industri padat karya. "Kami telah mengusulkan agar PPh25 untuk industri padat karya setidaknya turun sekitar 5 persen," kata dia.

Adapun insentif PPh21 yang biasanya dibayarkan perusahaan diharapkan juga turun sesuai dengan penghasilan tidak kena pajak.

"Kalau masalah kenaikan UMP ini ada solusinya, kami yakin industri nasional tahun depan bisa tumbuh 7,1 persen," kata Anshari.

Industri Makanan
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Franky Sibarani, memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman pada 2013 akan stagnan seperti tahun ini, yaitu 8 persen.

Ia mengatakan situasi di dalam negeri tahun 2013 akan sama dengan tahun ini, yaitu banyak agenda politis yang dijalankan pemerintah. Hal itu, menurut dia, yang menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung populis tanpa memperhatikan kepentingan pengusaha.

"Angka moderatnya 8 persen di tahun depan karena kami tidak percaya pemerintah bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan," ujar dia.

Menurut dia, pertumbuhan industri dalam negeri, khususnya makanan dan minuman, dipengaruhi stabilitas keamanan dan jaminan stabilitas keputusan terkait industri. Dia menilai tahun 2012 tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah sehingga mengganggu proses produksi.

"Tahun depan, apabila dilihat dari tahun 2012, akan lebih banyak diramaikan dengan peristiwa politik," kata dia.

sumber : Koran Jakarta

Share: