BERITA INDUSTRI

Mengintegrasikan Kawasan Sekitar Jabodetabek


Tinggal di radius 60 kilometer dari tempat kerja, tetapi dalam satu jam dapat sampai ke kantor. Gambaran ideal seperti ini tentunya sangat diharapkan warga yang tinggal di sekitar Jakarta yang setiap hari dihadapkan pada problem kemacetan dan belum tersedianya sistem transportasi yang sepenuhnya mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Pada pertemuan tingkat menteri Indonesia-Jepang yang berlangsung di Tokyo, Jepang, pada pekan kedua Oktober 2012, persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan publik warga sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) itu pun turut didiskusikan, yakni dalam pembahasan menyangkut Metropolitan Priority Area (MPA).

Secara ringkas, MPA merupakan program mengembangkan suatu kawasan di sekitar Jabodetabek menjadi sebuah kawasan yang terintegrasi sehingga tercipta keserasian antara masyarakat yang hidup dan lingkungan, termasuk kawasan industri.

Tak pelak, adanya pembangkit energi, kawasan industri, pelabuhan, air bersih, dan sistem transportasi yang cukup dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Kondisi tersebut akan menekan biaya hidup yang bermuara pada meningkatnya kualitas hidup warga.

Pertemuan tingkat menteri di Tokyo tersebut mengidentifikasi 45 proyek terkait MPA. Lima proyek di antaranya menjadi prioritas, yakni proyek konstruksi mass rapid transit (MRT) Jakarta dan pembangunan pelabuhan internasional baru di Cimalaya.

Selain itu, juga proyek pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pembangunan kluster akademi penelitian baru, dan pembangunan sistem saluran air limbah di DKI Jakarta.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, nilai total investasi semua proyek tersebut sekitar Rp 410 triliun. Sebanyak 55 persen akan dibiayai melalui swasta dan 45 persen dibiayai dengan campuran public private partnership, APBN Indonesia, dan skema pinjaman yang akan ditentukan kemudian.

Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat berpendapat, komitmen Jepang pada proyek MPA yang nilainya mencapai Rp 410 triliun tersebut akan memantik pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini karena komitmen tersebut akan menimbulkan pula efek berganda bagi subsektor lain, terutama yang berkaitan dengan sektor industri.

Arti penting proyek MPA tersebut dapat terlihat ketika menyimak kondisi terkini wilayah Jabodetabek dengan segenap permasalahannya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas MPA Jabodetabek 6.400,71 kilometer persegi dengan populasi pada 2010 sebanyak 27,95 juta jiwa. Perinciannya, luas DKI Jakarta 664,1 km persegi dengan jumlah penduduk 9,588 juta jiwa dan luas MPA timur (Kota dan Kabupaten Bekasi) 1.480 km persegi dengan populasi 4,966 juta jiwa.

Luas MPA selatan (Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bogor) 2.981,77 km persegi dengan jumlah penduduk sebanyak 7,456 juta jiwa, dan luas MPA barat (Kota dan Kabupaten Tangerang serta Kota Tangerang Selatan) 1.274,93 km persegi dengan populasi 4,9 juta jiwa.

Kawasan MPA tersebut sudah begitu disesaki warga. Mereka harus mendapatkan pelayanan yang baik dalam hal transportasi serta tercukupi kebutuhan akan air bersih, energi, dan keperluan lain. Selain itu, mereka juga perlu hidup serasi dengan lingkungan, termasuk kawasan industri yang bertumbuh di sekitarnya.

sumber : Kompas

Share:

Twitter