Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

BERITA INDUSTRI

Menggerakkan Plastik di Hilir


PRODUK plastik tera mat familier bagi ma syarakat dewasa ini, mulai dari kemasan makanan, perlengkapan rumah tangga, sampai kartu kredit di dompet.

Kendati pemakaiannya telah beragam, konsumsi plastik di Tanah Air ternyata terbilang rendah ketimbang negara-negara tetangga. "Konsumsi nasional per kapita per tahun baru 10 kg. Negara-negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, di atas 40 kg," ungkap Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, di Jakarta, kemarin.


Penetrasi yang rendah dianggap pertanda baik untuk produsen nasional. Artinya potensi pasar masih sangat besar. "Permintaan plastik kemasan terutama didorong pertumbuhan industri makanan minuman dan consumer good sebesar 60%," kata Panggah.

Industri kemasan plastik nasional memiliki 892 pelaku usaha, yang menghasilkan rigid packaging, flexible packaging, thermoforming, dan extrusion.

Adapun kapasitas terpasang ialah 2,35 juta ton per tahun. Se mentara itu, utilisasi baru 70% sehingga produksi rata-rata 1,65 juta ton dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 350 ribu orang pada 2011.

Sayangnya, pengembangan industri plastik hilir bukan tanpa tantangan. Ada ketergantungan tinggi dari industri terhadap bahan baku impor.

Untuk bahan baku polipro pilena, misalnya, Indonesia mengimpor 484 ribu ton dari kebutuhan 976 ribu ton pada 2010. Juga, impor nafta 1,6 juta ton dan kondensat 33 juta barel.

Itu lantaran keterbatasan kapasitas kilang minyak yang menghasilkan bahan baku nafta dan kondensat di dalam negeri.

Panggah memprediksi nilai impor bahan baku plastik akan meningkat hingga 10% menjadi US$6,5 miliar dari posisi tahun lalu, US$5,5 miliar.

Demi memperkuat struktur industri plastik dari hulu sampai hilir, lanjutnya, pengem bangan industri oil refinery yang terintegrasi dengan industri petrokimia amat urgen.

Bank lahan Ketergantungan pada bahan baku impor diamini para pelaku industri. Pihak Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengaku sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun tiga kilang minyak berkapasitas masing-masing 300 ribu barel per hari sampai 2020.

"Supaya antara kebutuhan untuk bahan bakar minyak dan petrokimia seimbang. Industri dalam negeri bisa berkembang.
Kalau tidak dibangun, kita akan terus jadi pengimpor," tutur Sekjen Inaplas Fajar Budiono, saat dihubungi kemarin.

Menurutnya, industri plastik domestik menyedot bahan baku impor hingga 40% dari kebutuhan. Sebagian besar berasal dari ASEAN dan India.

Namun, bahan baku bukan satu-satunya problem. Industri plastik butuh tambahan lahan untuk pengembangan investasi.
"Susah mencarinya. Mesti di pinggir pantai yang lautnya dalam di atas 8 meter. Itu hanya daerah tertentu dan kadang dikuasai orang sehingga pembebasannya sulit," keluh Fajar.

Ia berandai-andai pemerintah punya bank lahan yang siap pakai. Jadi, saat investor perlu, tidak usah lagi repot mencari.

sumber : Media Indonesia

Share: