BERITA INDUSTRI

Penjualan Mainan Edukatif Capai Rp 60 M


JAKARTA, (PR).- Penjualan mainan edukatif dan tradisional nasional selama semester I-2012 diperkirakan mencapai Rp 60 miliar. Nilai itu mengalami kenaikan sekitar 10-15 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmenti), Dhanang Sasongko, mengatakan, nilai itu baru merupakan penjualan secara ritel dan belum memperhitungkan penjualan proyek anggaran pemerintah.

Penjualan tersebut, kata dia, dicatat oleh sekitar 24 pelaku usaha mainan edukatif dan tradisional yang tergabung dalam Apmenti. Adapun kisaran volume penjualan setiap bulan adalah 6.000 unit dengan kisaran harga Rp 70.000 per unit.

"Mainan yang kami buat berbeda dengan mainan Cina. Mainan Cina rata-rata terbuat dari plastik atau karet, sisariya yang 20 persen adalah kayu. Sementara kami buat mainan dari kayu," kata Dhanang, ketika dihubungi di Jakarta, Senin (8/10).

Menurut dia, mainan buatan Cina dibentuk dengan cetakan. Sementara itu, Dhanarig membuatnya secara tradisional. Sehingga masalah kapasitas produksi saat ini masih menjadi tantangan. Meskipun begitu, ia menambahkan, mainan yang dibuatnya tidak akan tergantikan meski mainan digital saat ini banyak bermunculan di pasar.

"Mainan kami berbeda. Anak-anak akan diasah kemampuannya misalnya dengan membongkar mainan," ucapnya.

Selain kapasitas produksi, menurut dia, sulitnya mendapatkan bahan baku juga masih menjadi masalah terutama untuk kayu olahan.

Selain itu, menurut Dhanang, pihaknya juga masih sulit dalam melakukan promosi sehingga tidak mudah untuk menjual produknya di pusat-pusat perbelanjaan yang berskala besar karena hingga saat ini didominasi oleh produk impor. "Perhatian pemerintah terhadap industri mainan ini masih kurang," ujar Dhanang.

Dia berharap, pemerintah bisa mendirikan kluster khusus untuk mainan sehingga bisa berkembang. Dhanang mengaku, pihaknya sudah membahas hal itu dengan salah satu anggota Komisi VI DPR RI.

Dalam waktu dekat, kata dia, kluster bisa dibangun di wilayah Tasikmalaya. Pasalnya, di wilayah tersebut mudah untuk mendapatkan bahan baku kayu, pasarnya menjanjikan, dan tersedia sumber daya manusia (SDM).

"SDM-nya tinggal kita poles agar lebih kreatif membuat mainan. Mudah-mudahan tahun depan bisa tercapai ada kluster khusus mainan di Tasikmalaya. Saya juga sudah melakukan sejumlah riset di sana," ucapnya.

Persiapan matang

Menanggapi hal tersebut, Direktur Industri Tekstil dan Aneka Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ramon Bangun, mengatakan pihaknya menyambut baik usulan kluster khusus mainan edukatif dan tradisional.

Namun, hal tersebut membutuhkan persiapan yang matang. Yang terpenting, menurut Ramon, para pelakutisaha yang kecil jangan sampai tereksploitasi oleh yang besar.

"Di kluster itu mudah mendapatkan bahan baku. Pasarnya juga ada, begitu juga pembelinya nanti datang sendiri. Tapi nanti klusternya bagaimana mereka, mulai dari mekanisme hingga konsepnya," kata Ramon.

Terkait usulan kluster mainan di Tasikmalaya, Ramon mengaku belum mengetahui potensinya seperti apa. "Di suatu kluster tidak ada minimal harus berapa banyak industri, tetapi lebih banyak lebih baik. Bahkan kalau ada yang berskala besar sebagai bapak angkat di sana ya itu bagus," tuturnya.

sumber : Pikiran Rakyat

Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM