Beranda | Profil | Statistik Industri | Regulasi | Publikasi | Informasi Publik | Layanan Publik | Links | Hubungi Kami | Peta Situs

BERITA INDUSTRI

Nilai Tambah Karet Dipacu


JAKARTA-Kementerian Perindustrian akan terus menggalakkan penghiliran sektor karet dan barang karet untuk meningkatkan nilai tambah sektor tersebut.

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, menuturkan selama ini mayoritas industri karet hanya terfokus pada produk-produk di sektor otomotif.

Meskipun produk karet alam sudah banyak dimanfaatkan di dalam negeri, komponen hilir produk karet masih perlu ditingkatkan.

"Komponen karet hilir perlu diperluas lagi jangan hanya fokus untuk otomotif, tidak hanya ban," ujarnya, Senin (3/9).

Dia menegaskan upaya itu harus dilakukan sebagai upaya untuk mengantisipasi turunnya harga karet internasional.

Penggunaan karet untuk industri ban di Indonesia sudah cukup bersaing. Setidaknya 40% bahan baku ban berasal dari karet alam, 50% karet sintetis, sedangkan sisanya masih diimpor dari sejumlah negara.

"Bahkan, dari seluruh bahan baku karet alam yang digunakan di Indonesia, setidaknya 80% berasal dari petani," ujarnya.

Panggah mengatakan Indonesia diproyeksikan mampu memperkuat struktur industri ban, jika telah mampu memproduksi butadiene sebagai bahan baku ban.

"Selain itu, pengembangan produk chemical rubber juga perlu dipikirkan," katanya.

Dia menjelaskan sebagian besar karet alam dari petani lebih banyak diekspor ke sejumlah negara dalam bentuk karet kering (crumb rubber).

Meskipun demikian, hal itu dinilai tidak menjadi masalah karena produksi karet dinilai masih besar.

Menurutnya, potensi industri hulu karet kering di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia. Industri tersebut juga harus terus digenjot yang bekerja sama dengan petani.

Industri hulu, kata Panggah, juga harus ditingkatkan dengan ekstensifikasi kebun karet atau produktivitas per hektarenya.

Penelitian secara berkelanjutan harus dilakukan terus-menerus agar industri hulu crumb rubber memiliki efisiensi yang tinggi.

Realisasi ekspor karet alam Indonesia pada tahun lalu 2,35 juta ton dengan nilai mencapai US$7,32 miliar.

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia memperkirakan pengapalan karet alam Indonesia pada tahun ini naik tipis 4,25% atau 100.000 ton menjadi 2,45 juta ton.

Peningkatan ekspor karet tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan produksi karet tahun ini 8,88% menjadi 2,94 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu 2,70 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan karet domestik hanya 460.000 ton naik 4,78% dibandingkan dengan kebutuhan karet lokal pada tahun lalu 439.000 ton.

sumber : Bisnis Indonesia

Share:

Berita Serupa