BERITA INDUSTRI

Industri Hilir Karet Perlu Digalakkan


JAKARTA - Ada peluang saat harga karet dunia mengalami penurunan. Industri hilir produk karet di Indonesia perlu digalakkan. Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto menuturkan, meskipun produk karet alam Indonesia sudah banyak dimanfaatkan, komponen hilir produk karet masih perlu ditingkatkan.

"Perlu diperluas lagi jenis produk komponen karet hilirnya. Misalnya, untuk otomotif. Selain itu, perlu diperluas jenis produknya, tidak hanya ban," ujar Panggah, Senin (27/8), ditemui di kantornya. Pemanfaatan itu mengantisipasi turunnya harga karet internasional.

Menurutnya, penggunaan karet untuk industri ban di Indonesia sudah cukup bersaing, Sekitar 40 persen bahan baku ban berasal dari karet alam dan 50 persen karet sintetis, sementara sisanya masih diimpor.

Dari 40 persen bahan baku karet alam yang digunakan di Indonesia, 80 persennya berasal dari petani. Panggah mengatakan, jika Indonesia sudah bisa memproduksi butadiene sebagai bahan baku ban, akan memperkuat struktur industri ban di Indonesia. "Yang lain, chemical rubber juga perlu dipikirkan," kata dia.

Sementara itu, sebagian besar karet alam dari petani lebih banyak yang diekspor dalam bentuk crumb rubber (karet kering). Namun, dia menganggap hal itu tidak masalah. Karena, produksi karet dinilai masih besar. Ia menjelaskan, industri hulu crumb rubber di Indonesia merupakan terbanyak nomor dua di dunia.

Menurutnya, potensi karet alam di Indonesia sangat besar. Industri crumb rubber juga harus terus dikejar dengan bekerja sama pada industri crumb rubber yang bisa bermitra dengan petani.

Industri hulu, kata dia, juga harus tetap dikejar dengan ekstensifikasi kebun karet atau produktivitas per hektarenya. Penelitian secara berkelanjutan harus dilakukan terusmenerus agar industri hulu crumb rubber memiliki efisiensi yang tinggi. Sebelumnya, turunnya harga karet internasional membuat petani kecewa. Sebagian dari mereka enggan menanam karet dan menggantinya dengan komoditas lain.

Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria mengakui, petani semakin terdesak dengan harga karet yang menurun. Menurutnya, kini semakin banyak penyadap karet yang beralih ke komoditas lain. "Aktivitas memangjalan terus, tapi uangnya yang nggak ada," ujar Lukman, Ahad (26/8). Turunnya harga karet alam erat berhubungan dengan krisis Eropa.

Saat ini, harga karet dunia di kisaran harga 2,32,6 dolar AS per kilogram (kg). Sebelumnya, pada Maret, harga karet mencapai 3,8 dolar AS per kg sesuai data Kementerian Perdagangan (Kemendag). Menurutnya, harga karet yang diterima petani sekarang tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kini, kata Lukman, petani atau tukang deres hanya menerima Rp 3.000 tiap kg getah karet yang disadap. Itu sangat jauh dibandingkan harga jual karet dunia. Ia berharap pemerintah mengambil langkah agar petani tidak selalu menjadi korban atas turunnya harga karet dunia.

Petani yang memiliki lahan atau perkebunan karet, masih bisa bertahan. Namun, petani yang tidak memiliki lahan atau hanya sebagai tukang deres, banyak yang bekerja serabutan.

sumber : Republika

Share: