BERITA INDUSTRI

Kemenperin Pacu Pertumbuhan Industri Hulu


JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Perindustrian akan memacu pertumbuhan industri hulu, khususnya industri logam dasar (baja) dan industri kimia dasar (petrokimia).

Menteri Perindustrian (menperin) MS Hidayat mengatakan, industri baja dan petrokimia akan menghasilkan bahan baku untuk industri hilir di berbagai sektor. Selain itu juga akan mendorong tumbuhnya industri mesin dan peralatan (barang modal) yang juga dibutuhkan untuk industri hilir.

Untuk memacu pertumbuhan industri hulu, pemerintah memberikan insentif pajak dan pembebasan bea masuk barang modal. Hal ini dilakukan agar sektor industri hulu, baik logam dasar seperti baja, aluminium, nikel, dan tembaga, maupun industri kimia dasar seperti industri petrokimia, mengalami pertumbuhan pesat.

Proyek-proyek strategis yang sedang berjalan, menurut Hidayat, terdapat pada industri besi dan baja serta industri petrokimia dan pupuk. Di sektor besi dan baja, PT Krakatau Posco telah memulai pembangunan tahap I pabrik di Cilegon dengan kapasitas 3 juta ton per tahun dengan investasi 2,8 miliar dolar AS. Kemudian, PT Batulicin Steel telah memulai pembangunan pabrik tahap I berkapasitas 1 juta ton per tahun serta PT Ferronikel Halmahera Timur sudah menanamkan modalnya sebesar 1,6 miliar dolar AS dengan kapasitas produksi mencapai 27.000 ton per tahun.

Sementara di industri petrokimia, lanjut Hidayat, PT Petrokimia Butadiene Indonesia telah berinvestasi sebesar Rp 1,5 triliun dan PT Chandra Asri menanamkan modalnya sebesar Rp 1,7 triliun. Selain itu, pemerintah juga akan merevitalisasi lima pabrik pupuk urea milik BUMN dengan investasi 3,7 miliar dolar AS. PT Petrokimia Butadiene Indonesia memiliki kapasitas 150.000 ton per tahun, PT Chandra Asri kapasitasnya 1 juta ton per tahun, dan lima pabrik pupuk urea BUMN memiliki kapasitas 3,5 juta ton per tahun. Proyek-proyek tersebut akan selesai pada 2014.

"Dengan pengembangan industri logam dasar maupun industri kimia dasar, maka industri di hilir tidak akan kesulitan bahan baku. Selama ini, bahan baku industri masih diimpor dan membuat biaya produksi makin tinggi," kata MS Hidayat di sela acara buka puasa bersama dengan Forum Pemimpin Redaksi Media Massa Nasional di Jakarta, Senin (13/8) malam. Turut hadir pada acara ini Menteri Perdagangan Gita I Wirjawan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri.

Seperti diketahui, hingga semester I 2012, impor bahan baku dan penolong industri serta barang modal meningkat seiring realisasi investasi. Pada periode Januari-Juni 2012, impor bahan baku dan penolong mencapai 12,10 miliar dolar AS atau naik 7,48 persen, sedangkan impor barang modal sebesar 3,43 miliar dolar AS atau meningkat 25,26 persen.

Selain memberikan sinyal positif, menurut Hidayat, impor bahan baku dan penolong serta barang modal merupakan persoalan yang perlu ditangani dengan baik.

"Ketergantungan impor bahan baku dan penolong serta barang modal atau permesinan memang tidak bisa dihindari, karena sangat dibutuhkan dalam proses industrialisasi. Untuk itu, pemerintah juga mendorong investasi di sektor permesinan," katanya.

sumber : Suara Karya

Share: