BERITA INDUSTRI

Kawasan Industri Jepang Dibangun di Karawang


JAKARTA - Beberapa perusahaan elektronik, machinery, dan otomotif asal Jepang berminat untuk berekspansi dengan membangun pabrik di Karawang, Jawa Barat. Untuk itu, pemerintah berusaha untuk mencarikan lahan seluas 5.000 hektare dengan infrastruktur yang memadai.

Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan lahan seluas 3.000 hingga 5.000 hektare di Karawang, Jawa Barat, untuk pembangunan kawasan industri Jepang di Indonesia," kata Menteri Perindustrian, MS Hidayat pada acara pembukaan pameran batik warisan budaya di Jakarta, Selasa (24/7).

Hidayat menuturkan, perlu persiapan yang matang karena investor tidak ingin menggunakan pelabuhan Tanjung Priok sebagai arus keluar dan masuk barang. Pemerintah sedang mempersiapkan pembangunan infrastruktur seperti jalan, suplai listrik, serta suplai gas hingga sarana telekomunikasi. “Selain itu, pemerintah akan membangun pelabuhan di Karawang," katanya.

Untuk pasokan listrik di Kawasan Industri Jawa Barat tidak mengalami hambatan dan mendukung proses produksi. "Sepanjang wilayah Jawa Barat, suplai listrik tidak menjadi masalah. Sampai dengan saat ini, Pulau Jawa masih menjadi pilihan investor untuk berinvestasi, namun pemerintah menawarkan lahan di luar pulau Jawa dengan pemberian insentif yang menarik," ujarnya

Hidayat menambahkan, dengan masuknya investasi asal Jepang, diharapkan dapat menarik ribuan tenaga kerja. "Pembangunan kawasan industri akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dan membuat penyerapan tenaga kerja semakin besar," ujarnya.

Pelabuhan Cilamaya

Sementara itu, terkait dengan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya Karawang, Jawa Barat, Dahlan mengatakan, pelabuhan itu baru dapat direalisasikan setelah pembangunan Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, selesai dikerjakan

Dahlan mengakui ada sedikit keraguan ketika berkeinginan membangun Terminal Kalibaru menyusul rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya tersebut. Kendati demikian, ia menegaskan agar Pelindo tetap menjalankan pembangunan Kalibaru.

Ia mengatakan, pembangunan Pelabuhan Cilamaya maupun Terminal Kalibaru dibangun untuk mengatasi ancaman kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok, sebab pelabuhan ini sudah mendekati over capacity.

Direktur Utama Pelindo II, RJ Lino menuturkan perseroan mulai melaksanakan pembangunan Terminal Kalibaru pada Agustus tahun ini, walau izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) belum diterimanya. Ia memperkirakan, Pelabuhan Kalibaru bisa memberikan kontribusi sebesar 110 dollar AS per TEUs.

Untuk merealisasikan pembangunan Terminal Kalibaru ini, Pelindo II sudah menerima salinan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor. 36 Tahun 2012 yang ditandatangani 5 April 2012. Pembangunan ini diperkirakan selesai pada 2023 mendatang dengan kapasitas 13 juta TEUs.

"Kami menanamkan investasi senilai 22,66 triliun rupiah untuk membangun New Priok atau Pelabuhan Kalibaru," katanya.

Sementara itu, Pelabuhan Cilamaya mulai ditender tahun depan sehingga pembangunannya diharapkan 2014 dan paling lambat 2015. Investasi pelabuhan ini diperkirakan 5-10 triliun rupiah dengan sumber dana dari APBN.

sumber : Koran Jakarta

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM