BERITA INDUSTRI

Produk Impor China Merajalela di Tanah Air


JAKARTA, KOMPAS - Indonesia kebanjiran produk impor, terutama dari China. Produk impor yang masuk melalui sejumlah pelabuhan di Tanah Air itu "menyerang" konsumen dengan barang jadi dan industri dengan bahan baku.

Berdasarkan data yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pekan lalu, impor pada Mei 2011 senilai 14,825 miliar dollar AS. Namun, pada Mei 2012 impor mencapai 17,210 miliar dollar AS. Nilai impor ini bahkan lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor pada Mei 2012. Ekspor pada Mei 2011 senilai 18,334 miliar dollar AS. Ekspor Mei 2012 justru turun menjadi 16,724 miliar dollar AS.

Negara pemasok barang impor nonminyak dan gas bumi (nonmigas) terbesar selama JanuariMei 2012 masih ditempati China dengan nilai 11,89 miliar dollar AS dengan pangsa 19,29 persen. Berikutnya adalah Jepang 9,66 miliar dollar AS (15,67 persen) dan Thailand 4,73 miliar dollar AS (7,67 persen).

Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Minggu (8/7), beralasan, industri dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor. Bahan baku impor itu, antara lain katun untuk tekstil, bahan baku pembuatan bijih besi (pellet), bijih besi hasil daur ulang besi dan baja bekas (scrap) untuk baja, bahan baku untuk industri rnakanan, petrokirnia, serta industri otomotif dan mesin peralatan.

"Kenaikan impor bahan baku tersebut dari sisi positifnya berarti menandakan meningkatnya aktivitas industri dalam negeri. Yang dilakukan pemerintah adalah pengendalian terhadap impor bahan baku yang sudah bisa dibuat di dalam negeri,"' ujar Hidayat.

Belum ada pengendalian

Di sejumlah pelabuhan di daerah, volume impor barang semakin naik. Namun, sejauh ini juga belum terlihat ada upaya pengendalian terhadap impor barang. Sempat ada usul pembatasan impor sayur-mayur melalui Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara (Sumut), tetapi ditangguhkan karena importir mengusulkan sosialisasi terlebih dahulu. 

Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut Bidar Alamsyah didampingi Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut Sujatmiko dan Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut Fitra Kurnia.

BPS Sumut melaporkan, nilai impor melalui Sumut pada Mei 2012 justru naik menjadi 431,73 juta dollar AS atau naik sebesar 11,34 persen dibandingkan April 2012, yakni sebesar 387,75 juta dollar AS. 

Jika dibandingkan dengan Mei 2011, nilai impor Mei 2012 naik sebesar 13,35 persen. Nilai impor Januari-Mei 2012 dibandingkan Januari-Mei 2011 juga naik 0,1 persen.

Demikian pula melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), barang impor masuk dengan bebas. "Sejauh ini memang tidak ada pembatasan impor di pelabuhan. Barang yang sudah mendapat izin impor Bea dan Cukai dapat masuk melalui pelabuhan," kata Manajer Hubungan Masyarakat PT Pelabuhan Indonesia (PT Pelindo) III Edi Priyanto.

Edi Priyanto mengatakan, jumlah barang impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak pada 2012 meningkat jika dibandingkan tahun lalu. 

Berdasarkan data PT Pelindo III, volume barang impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak selama Januari-Juni 2012 mencapai 283.766 twenty foot equivalent units (TEUs). Satu TEUs setara dengan satu kontainer berukuran 20 kaki. 

Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan periode serupa tahun 2011 yang sebesar 274.373 TEUs. Bahkan, pada semester I-2012, jumlah barang impor lebih tinggi daripada jumlah barang ekspor yang keluar, yang mencapai 279.309 TEUs.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Budi Setiawan mengakui, kebanyakan barang impor yang masuk ke Jatim berasal dari China Barang itu berupa bahan baku untuk industri plastik, baja, mesin pesawat, dan hortikultura.

Berdasarkan data BPS Jatim, total nilai impor ke Jatim selama Januari-Juni 2012 mencapai 9.819,96 juta dollar AS atau meningkat 12,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 8.724,64 juta dollar AS. 

Produk impor terbanyak adalah mesin pesawat 746.367,4 dollar AS, besi dan baja 735.948,3 dollar AS, dan pupuk 522.473,75 dollar AS. "China merupakan negara pemasok barang impor non-migas terbesar. Pada Mei 2012 saja mencapai 344,6 juta dollar AS," kata Kepala BPS Jatim Man Indrocahyo.

Menanggapi meningkatnya impor, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengatakan, apabila persoalan infrastruktur untuk membangkitkan kegiatan ekspor tidak dipercepat, Indonesia akan kalah bersaing di dunia "Akibatnya, ketergantungan impor tidak akan terbendung. Indonesia hanya akan dijadikan pasar," kata Sofjan.

Kementerian Perindustrian mendorong kebijakan guna menjaga pasar domestik. Kebijakan itu seperti penerapan wajib standar nasional Indonesia. Selain itu, juga bea masuk antidumping atau tindakan pengamanan perdagangan (safeguard), seperti untuk bahan baku industri hilir besi baja dan tepung terigu.

sumber : Kompas

Share: