BERITA INDUSTRI

9 Kawasan Industri Dirancang


JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan sembilan rencana induk (masterplan) pengembangan kawasan industri bisa rampung pada tahun ini.

Kesembilan rencana induk itu adalah untuk kawasan industri Siak, Riau, untuk industri penunjang migas; industri tekstil kering di Boyolali, Jawa Tengah; industri timah di Bangka, Bangka Belitung; Sei Bamban, Sumatera Utara, untuk industri karet; Majalengka,Jawa Barat, industri tekstil kering basah; industri petrokimia berbasis gas di Gresik, Jawa Timur; industri petrokimia berbasis gas di Bintuni,Papua; industri feronikel di Buli, Halmahera Tenggara; dan besi baja di Kulon Progo, Yogyakarta.

"Saat ini pengembangan kawasan industri masih dalam tahapan penyusunan masterplannya," kata Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Dedi Mulyadi di Jakarta kemarin. Setelah penyusunan masterplan, lanjutnya,dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan, rencana strategis, rencana kelayakan, kemudian penawaran kepada para calon investor.

Khusus untuk Boyolali, jelas dia, selain penyusunan masterplan, pihaknya juga tengah menyelesaikan detail engineering design(DED). Kemudian,masuk tahap pembuatan amdal dan aspek sosial. "Luas lahan potensial yang bisa dimanfaatkan di Boyolali untuk kawasan industrinya sekitar 272-300 hektare (ha). Kawasan itu difokuskan untuk industri tekstil kering seperti garmen karena suplai airnya sedikit," tuturnya.

Dedi menyebutkan, pihaknya dan sejumlah investor tekstil telah mengunjungi Boyolali pada beberapa waktu lalu. Pasalnya, wilayah Bandung Selatan yang saat ini menjadi lokasi utama pabrik tekstil semakin tak kondusif karena kerap terkena banjir. Selain itu,kenaikan upah tenaga kerja di wilayah Jabodetabek ikut menjadi pendorong para investor untuk merelokasi pabriknya ke Boyolali.

"Kawasan itu dirancang untuk industri berbasis TPT yang terintegrasi. Termasuk, menyiapkan infrastruktur dan fasilitas berupa pusat pelatihan dan inovasi. Boyolali bisa menyerap tenaga kerja 30.000 orang," paparnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan hal senada. Menurutnya, industri TPT di Boyolali saat ini belum terintegrasi. Namun, investor Korea Selatan telah meninjau kawasan itu dan investor asal China juga berencana mengunjungi Boyolali.

"Boyolali cocok untuk industri garmen. Sebelumnya ke Majalengka juga sudah ada investor China yang meninjau. Tapi, belum diputuskan.Mereka akan membangun industri pencelupan dan pemintalan di Majalengka. Saat ini kedua lokasi itu disiapkan, masih studi. Nanti, kalau sudah terpakai lebih 50 ha, barulah bisa dinyatakan sebagai kawasan industri," katanya. 

sumber : Seputar Indonesia Pagi

Share: