SIARAN PERS

Kemenperin Mengembangkan Wirausaha Baru yang Berdaya Saing Global


Sejak Februari 2011, Presiden telah mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Sebanyak 13 Kementerian/institusi termasuk Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung pencanangan GKN dengan tujuan meningkatkan jumlah wirausaha yang kini baru sekitar 0,24% dari populasi menjadi sekurangnya 1% dari populasi penduduk Indonesia pada tahun 2014.


 


“Perlu kita ketahui bersama, salah satu sektor pembangunan ekonomi kerakyatan yang memegang peranan penting dan strategis adalah pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM),” kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat saat memberi sambutan pada pembukaan Pameran Produk Unggulan Binaan Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) dan Wirausaha Baru Industri sekaligus juga pembukaan Seminar Pengembangan Wirausaha Baru Industri, dengan tema “Menjadi Wirausaha Baru Industri yang Berdaya saing Global” di gedung Kemenperin, Jakarta, Selasa (10/4)


 


Lebih jauh, Menperin mengungkapkan, saat ini keberadaan IKM yang berjumlah 3,8 juta unit usaha dengan sebaran 75% yang berada di pulau Jawa dan 25% diluar pulau Jawa, diharapkan akan bergeser menjadi 60% di pulau Jawa dan 40% di luar pulau Jawa pada tahun 2014.


 


Menperin menyatakan, pemerintah terus melakukan upaya-upaya dalam rangka membantu IKM untuk meningkatkan daya saingnya dan mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada. Diantaranya adalah melalui pemberian kredit usaha rakyat (KUR), peningkatan kemampuan teknologi melalui program restrukturisasi mesin, peningkatan kemampuan SDM melalui berbagai pelatihan, fasilitasi serta pendampingan, sistem jaminan mutu dan keamanan pangan,dan hal lainnya yang tekait peningkatan akses pasar.


 


Secara garis besar, Menperin memaparkan, penciptaan wirausaha baru dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan by design dan pendekatan fast track.Pendekatan By Design dilakukan melalui serangkaian kegiatan rekrutmen, pelatihan, magang, dan pemberian modal usaha sebelum orang menjadi wirausaha.


 


Sedangkan, pendekatan fast track dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan pelatihan, inkubator, diiringi pemberian fasilitas peralatan produksi atau modal kerja. Dalam dua tahun terakhir (2010-2011) telah dilakukan pelatihan dan pemberian mesin/peralatan untuk menumbuhkan sebanyak 1839 wirausaha baru.


 


Melalui Direktorat Jenderal IKM, Kemenperin terus memperkuat kemampuan wirausaha IKM agar menjadi wirausaha yang mandiri dan profesional. Diantaranya yakni mengambil peran untuk mengatasi permasalahan yang terjadi sebagai dampak dari moratorium TKI melalui Program Penumbuhan Wirausaha Baru Paska Moratorium, dengan melakukan pelatihan dan pemberian peralatan produksi untuk menjadikan para TKI menjadi wirausaha baru sebanyak 855 unit.


 


Disamping itu juga dilaksanakan program Penumbuhan Wirausaha Baru melalui pondok pesantren. Pembinaan pondok pesantren menjadi wirausaha baru diharapkan menjadi agent development yang mampu menggerakkan masyarakat sekitarnya. Jumlah pondok pesantren yang dibina melalui pelatihan kewirausahaan dengan diikuti bantuan mesin/peralatan produksi pada tahun 2011 sebanyak 12 pondok pesantren.


 


Kemenperin juga melakukan sosialisasi dan fasilitasi KUR bagi IKM langsung ke sentra-sentra dengan melibatkan pihak perbankan, menyampaikan daftar IKM potensial ke bank pelaksana, mempromosikan fasilitas KUR pada setiap acara yang diadakan di daerah dan meningkatkan penyaluran KUR melalui perusahaan IKM penjamin (off taker).


 


Selanjutnya, menyelenggarakan program beasiswa bagi tenaga-tenaga muda lulusan Sekolah Menengah Tingkat Atas berprestasi dari berbagai daerah diseluruh Indonesia direkrut untuk mengikuti program pendididikan setingkat D3 pada Unit Pendidikan di Lingkungan Kementerian Perindustrian. Sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No.19/M-IND/PER/ 2/2009 tentang Penyelenggaraan Program Beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan Industri Kecil dan Menengah (TPL-IKM).


 


Dan, melalui Peraturan Menteri Perindustrian No.75/M-IND/PER/ 7/2010 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (Good Manufacturing Practices), Kemenperin melakukan pembinaan secara intensif, berkelanjutan dan terintegrasi dengan melibatkan instansi terkait secara berkesinambungan dan konsisten.


 


Kita semua tentu mengetahui bahwa kewirausahaan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari hanya dengan textbook, dihafalkan, diujikan dan kemudian lulus dengan hasil baik, melainkan sesuatu yang lebih mendalam. Wirausaha memerlukan pengajaran dengan cara yang berbeda. Mulai dari memberikan motivasi, contoh-contoh dan yang paling penting adalah upaya untuk mempraktekkan, karena wirausaha tidak bisa hanya dalam bentuk konsep teori di atas kertas,” paparnya menjelaskan.


 


Menperin berharap, melalui seminar dan pameran ini mampu menggugah semangat masyarakat khususnya para mahasiswa dan TPL-IKM Program Beasiswa untuk berwirausaha. Rekan-rekan (mahasiswa) sekalian tidak lagi berpikir akan bekerja sebagai pegawai setelah lulus nanti tetapi termotivasi untuk menjadi pengusaha sehingga pada akhirnya generasi muda sebagai kader kaum cerdik cendekia bangsa dapat menjadi pengusaha-pengusaha tangguh guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang lebih baik ,” urainya.


 


Pada kesempatan yang sama, Menperin juga melakukan penandatanganan MoU, diantaranya penandatanganan MoU antara Dirjen IKM Kemenperin dengan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) tentang Modal Ventura bagi IKM. Disambung, penandatanganan MoU antara Dirjen IKM Kemenperin dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Badan POM RI, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentang Pengembangan sentra IKM jajanan gorengan. Selain itu, dilakukan juga penyerahan buku Referensi Pembina Penumbuhkembangan Wirausaha Baru Industri dari keluarga Alm. Ibu Ani Hidayat kepada Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).


 


Selanjutnya, dilaksanakan pula Kuliah Umum Menteri Perindustrian dengan topik “Kita Memulai Usaha”. Saat itu, dihadiri oleh kalangan praktisi dan wirausaha industri, TPL IKM, dan mahasiswa perguruan tinggi dan politeknik yang berjumlah sekitar 300 orang.


 


Dalam materinya, Menperin memaparkan, sektor bisnis industri manufaktur merupakan salah satu sektor bisnis yang tepat untuk memulai usaha pada saat ini. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Menperin, yaitu:


 


1.    Prospektif


Pertumbuhan sektor industri manufaktur setahun terakhir ini tumbuh lebih besar dari pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional Indonesia. Ini menunjukkan kemajuan sektor industri manufaktur yang sekaligus memberi gambaran nyata akan besarnya potensi bisnis sektor industri manufaktur.


 


2.    Kemandirian perekonomian


Kemajuan perekonomian Indonesia meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Peningkatan daya beli yang tercermin dari meningkatnya pendapatan rata-rata per kapita membutuhkan penyaluran pembelanjaan, yang sayangnya banyak digunakan untuk membeli produk impor. 


Belanja pada produk impor akan membuat negara kita terus tergantung pada negara lain dan mengurangi kemandirian nasional.  Dengan memproduksi barang kebutuhan masyarakat, khususnya dari sektor industri manufaktur, akan meningkatkan kemandirian nasional.


 


 


3.    Membuka lapangan kerja


Berbisnis di industri manufaktur akan menghasilkan multiplier effect dari bergeraknya sektor ekonomi primer seperti pertanian dan pertambangan, industri bahan baku, industri barang setengah jadi, perdagangan dalam negeri, ekspor, sektor keuangan dan sektor penunjang lainnya.  Keterkaitan yang sedemikian luas pada sektor industri manufaktur memberi kesempatan kerja yang luas pada rakyat Indonesia.


 


4.    Integrasi supply chain


Banyak perusahaan besar industri manufaktur dari dalam dan luar negeri yang sudah dan sedang membangun pabrik di Indonesia.  Keberadaan pabrik-pabrik besar tersebut membutuhkan kerjasama pasokan dan dukungan lain yang bisa disediakan oleh para pelaku usaha industri pemula. Maka itu, menjadi mitra dari para perusahaan besar akan mempercepat proses memulai dan mengembangkan bisnis yang kita dirikan.


 


 


 


5.    Ketersediaan dukungan pemerintah


Kemenperin terus memberikan dukungan atas lahirnya ribuan dan bahkan jutaan wirausaha baru sektor industri manufaktur.  Dukungan teknis dan non teknis akan disediakan melalui Dirjen IKM serta semua Direktorat Jenderal dan lembaga di Kemenperin. Pusdiklat Kemenperin, misalnya, juga berperan aktif menumbuhkembangkan industriawan-industriawan melalui Balai Diklat Industri, Sekolah Tinggi, dan Akademi Perindustrian di seluruh Indonesia.


 


Saya ingin lima atau sepuluh tahun mendatang akan dihasilkan industriawan-industriawan besar Indonesia yang berdaya saing global dan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,” harap Menperin seraya mengakhiri materi kuliah umum yang dipaparkannya.


 


Seusai itu, Menperin sempat menjelaskan kepada para wartawan mengenai modal ventura, Dijelaskannya, modal ventura merupakan suatu investasi dalam bentuk pembiayaan berupa penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan swasta sebagai pasangan usaha (investee company) untuk jangka waktu tertentu. Banyaknya IKM yang potensinya lemah dalam hal finansial dan manajemen serta belum berjalannya penerapan venture capital bagi IKM di Indonesia mendorong Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) untuk membentuk HIPPI Social Venture Capital Indonesia (HSVCI) yang akan diresmikan dalam waktu dekat ini bekerjasama dengan Dirjen IKM Kemenperin,” urainya.


 


Menperin juga mengatakan, wacana modal ventura sudah dibahas sejak dua bulan lalu. Saat ini sudah ada 10 orang wirausaha swasta yang berminat mendaftar menjadi modal ventura. “Mereka adalah wirusahawan sukses yang ingin menumbuhkembangkan wirausaha baru. Kami juga beraharap, satu orang itu bisa memberikan modal sekitar 3-5 miliar,” tuturnya. Menperin pun meyakinkan, skema modal ventura ini dapat berjalan efektif karena telah terbukti di negara-negara maju mampu melahirkan IKM, tentunya dengan tata cara yang sehat.


 


Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.


 


Jakarta, 10 April 2012


Pusat Komunikasi Publik


KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN



Share: