BERITA INDUSTRI

Bisnis Makanan dan Otomotif Dongkrak Bisnis Industri Plastik


JAKARTA. Kebutuhan kemasan yang terus meningkat dari kalangan industri membuat industri plastik terus bertumbuh. Kalangan industri plastik dalam negeri pun optimistis permintaan plastik masih bakal meningkat.

Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (Inaplas) memprediksi, konsumsi plastik nasional tahun ini bisa mencapai 3 juta ton atau tumbuh sekitar 7% dari konsumsi tahun lalu yang mencapai 2,8 juta ton

Menurut Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Inaplas, peningkatan konsumsi plastik ini terjadi lantaran adanya permintaan dari industri makanan dan minuman yang terus menguat. Selain itu, peningkatan permintaan juga datang dari sektor otomotif yang berencana terus meningkatkan kapasitas produksi di tahun ini.

Sejatinya, permintaan plastik ini bisa lebih tinggi lagi dari prediksi Inaplas. Namun membanjirnya produk makanan dan minuman impor di pasar lokal ditengarai bisa menghambat laju permintaan plastik. Sehingga target pertumbuhan konsumsi plastik sebesar 7% dinilai cukup realistis. "Banjir makanan dan minuman impor membuat permintaan plastik di dalam negeri jadi ikut terpengaruh," kata Fajar Budiyono.

Bahan baku plastik yang biasa dibutuhkan pasar, menurut Fajar, adalah polietilena (PE) dan polipropilena (PP). Untuk konsumsi plastik jenis PE, tahun lalu mencapai 800.000 ton: Adapun konsumsi plastik PP mencapai sebesar 900.000 ton.

Dari jumlah ini, PT Chandra Asri menyuplai sekitar 480.000 ton plastik. Sedangkan PT Polytama Propindo sebanyak 360.000 ton. Lantas sekitar 40.000 ton dari PT Pertamina. Sisanya dari berbagai perusahaan lain. Tahun lalu, industri plastik hilir mengimpor sebanyak 484.000 ton plastik PP.

Industri plastik dalam negeri bisa saja menggejot kapasitas produk plastik lebih banyak lagi. Pasalnya, menurut catatan Inaplas, kapasitas produksi yang baru terpakai industri plastik nasional selama periode Januari - September 2011 cuma sekitar 49,7% saja. "Jadi utilitasnya belum maksimal," katanya.

Salah satu penyebab belum maksimalnya kapasitas produksi industri plastik hilir adalah masih seretnya pasokan bahan baku plastik di industri plastik hum. Imbasnya, industri plastik lokal masih harus mengimpor bahan baku plastik seperti resin plastik. Sejauh ini, sekitar 20%-30% dari kebutuhan bahan baku plastik memang masih impor.

Sementara untuk produk jadi plastik, tahun ini diperkirakan Indonesia masih akan mengimpor sebesar 420.000 ton atau naik 3,7% dari impor tahun lalu yang mencapai 405.000 ton. "Impor antara lain berupa produk terpal, mainan anak, dan pipa," ujar Fajar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, saat ini sudah ada sekitar 925 produsen plastik dari hulu sampai hilir. Produsen plastik sebanyak itu, berhasil menyerap lebih dari 37.000 tenaga kerja. Sedangkan 38,5% produk plastik di dalam negeri digunakan untuk industri kemasan.

Panggah Susanto, Dirjen Industri Manufaktur Kemenperin menegaskan, pemerintah akan terus mendorong industri plastik dalam negeri. Salah satu caranya adalah dengan pemberian fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Selain itu, pemerintah juga mendorong berkembangnya industri petrokimia sebagai penopang utama industri plastik.

Menurut Panggah, ada paradigma baru pengembangan industri petrokimia yaitu menciptakan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya melalui integrasi industri kilang minyak dan industri petrokimia seperti yang dilakukan negara maju dan China. "Kita ingin mendorong dari hulu sampai hilir," kata Panggah.

Selain itu, pemerintah pun akan melakukan percepatan penerapan SNI wajib yang bisa meningkatkan daya saing dan perlindungan bagi industri lokal. Di antaranya adalah percepatan SNI wajib bagi lima produk sektor kimia hulu. Lalu ada 12 produk yang akan dipercepat SNI wajibnya dan empat peraturan teknis di sektor kimia hilir. Sedangkan sektor mainan akan dikenakan SNI wajib sebanyak 15 produk tahun ini. 

sumber ; Bisnis Indonesia

Share: