BERITA INDUSTRI

Industri Manufaktur Kian Bergairah


Sumber: Koran Tempo (04/01/2019)


JAKARTA - Lembaga riset ekonomi, IHS Markit dan Nikkei, menyatakan industri kinerja manufaktur Indonesia cukup positif sepanjang 2018. Data Indonesia Manufacturing Purchasing Managers Index atau PMI, yang dipublikasikan Nikkei kemarin, menunjukkan rata-rata indeks tahun lalu mencapai 50,9 atau di level ekspansif.


Menurut ekonom IHS Markit, Bernard Aw, aktivitas manufaktur Indonesia meningkat untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, yakni pada Desember. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan pulihnya industri manufaktur, yang sebelumnya berada di bawah tekanan. PMI Indonesia pada Desember lalu mencapai 51,2, naik dari bulan sebelumnya, yang berada di level 50,4. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sementara angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.


Aw mengatakan permintaan produk industri naik pertama di kuartal keempat pada Desember, didorong pasar domestik. Namun ekspor terus turun meskipun nilai tukar lebih kompetitif. Aw juga menyoroti stabilisasi rupiah terhadap dolar menjelang akhir tahun, yang turut menjinakkan inflasi. "Tekanan inflasi yang kuat menjadi perhatian utama karena industri bergulat dengan kenaikan biaya bahan baku di tengah lesunya permintaan," ujarnya dalam publikasi risetnya, kemarin.


Menanggapi publikasi tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan pelaku industri manufaktur mampu terus meningkatkan produktivitas dan memperluas usaha untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. "Dari capaian tersebut, para investor di sektor industri melihat bahwa Indonesia telah mampu mengelola ekonomi melalui norma baru. Upaya ini sejalan dengan tekad pemerintah menciptakan iklim usaha yang makin kondusif," ucapnya.


Menurut Airlangga, di Asia Tenggara, geliat industri Indonesia lebih baik daripada Thailand, Malaysia, dan Singapura. PMI manufaktur ASEAN berada di level 50,3 pada Desember 2018, melambat dibanding capaian bulan sebelumnya di tingkat 50,4. Airlangga menyatakan kenaikan indeks manufaktur pada akhir 2018 menegaskan bahwa kondisi pelaku industri manufaktur Indonesia makin percaya diri untuk lebih ekspansif tahun ini.


"Memasuki tahun politik, kita harus lebih optimistis, termasuk kepada para pelaku industri, supaya bisa mengambil peluang," tuturnya.


Tahun ini, Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur 5,4 persen. Subsektor yang diperkirakan tumbuh tinggi antara lain industri makanan dan minuman; industri permesinan; industri tekstil dan pakaian jadi; industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki; serta industri barang logam, komputer, dan barang elektronika.


Airlangga pun yakin investasi industri manufaktur bisa meningkat tahun ini. Sebab, kata dia, pemerintah telah merilis aturan insentif pembebasan pajak sementara waktu atau tax holiday untuk lebih banyak sektor melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150 Tahun 2018 tentang Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan. Kepastian mendapatkan insentif juga lebih jelas melalui sistem online single submission (OSS).


"Artinya, investor tidak perlu lagi menunggu. Kondisi ekonomi dan politik Indonesia dinilai stabil. Ini kesempatan untuk terus memacu investasi, ekspor, dan mengoptimalkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor industri," ujarnya. FERY FIRMANSYAH 



Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM