BERITA INDUSTRI

Produksi Alat Berat Melonjak 52,5%


Sumber : Investor Daily (09/02/2018)


JAKARTA – Produksi alat berat sepanjang 2017 mencapai 5.609 unit, naik 52,5% dibandingkan tahun 2016 yang sebanyak 3.678 unit. Jumlah ini melebihi target Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) yang sebesar 4.400 unit.


“Kenaikan produksi disebabkan oleh membaiknya harga komoditas, terutama di pertambangan. Akibatnya, permintaan alat berat pun meningkat signifikan,” kata Ketua Hinabi Jamaludin kepada Investor Daily, Kamis (8/2).


Jamaludin berharap, tren kenaikan tersebut berlanjut, sehingga produksi alat berat mampu kembali tumbuh di tahun ini. Hinabi menargetkan, produksi alat berat pada tahun 2018 bisa mencapai 7.000 unit, naik 24,7% dibandingkan realisasi 2017.


Sementara target produksi kuartal I-2018, kata dia, ditetapkan di kisaran 2.000 unit. Adapun komposisi produksi alat berat tahun ini masih didominasi oleh pertambangan sekitar 30%, konstruksi 30%, sementara sisanya perkebunan dan hutan masing-masing 15%.


“Tahun ini, peningkatan produksi akan signifikan karena permintaannya besar. Permintaan alat berat kan 10 ribu unit, kapasitas kami juga 10 ribu unit. Dengan memenuhi hingga 7.000 unit, berarti mendongkrak utilisasi kami menjadi 70%,” kata Jamaludin.


Menurut Jamaludin, tahun ini, industri alat berat lebih siapmenghadapi kenaikan permintaan. Hal ini berbeda dengan tahun lalu, dimana Hinabi mendapat order lebih tinggi dari perkiraan awal, sehingga industri pun kesulitan memenuhi permintaan tersebut karena adanya ketidaksiapan material dan tenaga kerja.


“Sekarang mencari karyawan susah. Makanya kami hanya sanggup 7.000 unit, dengan jumlah karyawan 15 ribu orang. Saat kita memproduksi 10 ribu unit, total karyawan yang dibutuhkan mencapai 17 ribu orang. Tahun lalu itu permintaan juga besar tapi kami tidak siap, tahun ini harusnya lebih siap,” kata Jamaludin.


Meski demikian, menurut dia, industri alat berat masih dihinggapi kekhawatiran pada tahun ini. “Yang membuat khawatir bukan lagi soal regulasi maupun gempuran alat berat impor, melainkan berlangsungnya tahun politik. Kami harapkan jalannya pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tidak menimbulkan gejolak tertentu yang berimbas negatif pada industri,” ujar dia.


Dia berharap, Pilkada seretak akan berlangsung aman sehingga iklim politik dan ekonomi juga kondusif, yang akan berdampak positif terhadap pertumbuhan industri. “Dari pantauan kami, harga komoditi juga bagus. Kalau naik terlalu tinggi juga tidak bagus,” tambah dia.


Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan, industri alat berat berperan penting dalam mendukung sektor-sektor strategis di ekonomi Indonesia, seperti pertambangan, pengolahan lahan hutan, pembangunan infrastruktur, serta perkebunan dan pertanian.


“Apalagi, pemerintah sedang fokus pada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah, khususnya daerahdaerah terluar Indonesia. Pembangunan ini mencakup kegiatan-kegiatan pembukaan lahan serta pembuatan sarana dan prasarana pendukung kehidupan masyarakat,” kata Airlangga.


PT Komatsu Indonesia, salah satu produsen alat berat nasional, menurut Airlangga, berupaya mengembangkan produk alat berat berupa traktor yang dapat dipergunakan untuk tanam benih jagung dengan dilengkapi teknologi internet sebagai pengoperasiannya. Alat berat ini telah diuji coba di lahan pertanian di Merauke, Papua.


“Kami mendorong industri alat berat ini untuk terus berinovasi, termasuk menghasilkan produk yang bisa menopang sektor pertanian. Karena ke depan, sektor pertanian akan semakin modern, terutama di luar Jawa. Kami pacu industri ini semakin meningkatkan komponen lokalnya,” papar Airlangga.


Komatsu juga melakukan pengembangan teknologi melalui kerja sama penelitian dan pengembangan (R&D) dengan beberapa perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Per tanian Bogor dan Universitas Indonesia.



Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM