PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (LITBANG)

BBK Buka Peluang Kerjasama Litbang dengan Perguruan Tinggi dan Industri


Rabu,10/05/2017. Untuk menemukan solusi dari permasalahan terjadi saat ini, diperlukan sinergitas antar lembaga litbang, pelaku usaha dan perguruan tinggi, agar tercipta kerja sama yang berkelanjutan. Balai Besar Keramik, selaku lembaga litbang di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian membuka peluang kerjasama dengan 2 (dua) perguruan tinggi, 1 (satu) pelaku usaha/manufaktur untuk komoditi Refraktori dan 1 (satu) BUMN di Bidang Pertambangan. Acara penandatanganan kontrak dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Seminar Nasional Keramik ke XVI dan Temu Usaha Industri yang dibuka oleh Kepala BPPI Kemenperin, yang bertempat di Hotel Panghegar, Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari perwakilan industri dan asosiasi industri, lembaga litbang, perguruan tinggi, dll.

Kerjasama yang dilakukan dengan 2 (dua) perguruan tinggi, yaitu dengan Universitas Telkom Bandung dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kerjasama dengan Universitas Telkom Bandung adalah kerjasama di Bidang Keramik dan Instrumentasi, sedangkan kerjasama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung adalah kerjasama dalam Bidang Sains dan Teknologi Keramik. Kerjasama yang dilakukan dengan PT Sigma Mitra Sejati, yang merupakan manufaktur refraktori  adalah kerjasama dalam hal Peningkatan Mutu Casette Plat Refraktori dan kerjasama dengan salah satu BUMN, yaitu PT Antam Tbk dalam hal Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Tambang Emas Pongkor. 

Hadirnya Balai Besar di lingkungan Kemenperin, seperti Balai Besar Keramik, diharapkan perguruan tinggi, industri dan institusi terkait lainnya dapat memanfaatkan fasilitas dan sumber daya yang disediakan pemerintah. Permintaan penelitian dapat diusulkan untuk pengembangan produk, pemanfaatan dan pengolahan limbah dan pemanfaatan bahan baku lokal sehingga dapat memberikan nilai tambah dan menghasilkan produk bermutu tinggi. Bila hal di atas dilakukan tentunya akan mengurangi biaya riset yang dilakukan sendiri oleh industri/perguruan tinggi. Khususnya bagi industri, diharapkan mereka dapat lebih memanfaatkan lembaga litbang yang ada di Indonesia untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai besar Keramik, Supomo juga memperkenalkan hasil riset BBK berupa abu tulang sintetis. Abu tulang adalah salah satu bahan pembuat produk keramik sejenis porselen. Bahan dasar abu tulang ini, biasanya terbuat dari tulang hewan yang dibakar. Abu tulang dipakai karena warna keramik yang muncul putih tembus bayang, permukaannya licin dan mengkilat, namun menimbulkan bau yang menyengat saat dibakar.

BBK melakukan riset untuk dapat menggantikan abu tulang hewan tersebut. Bahan yang digunakan adalah campuran kapur tohor dan asam fosfat yang ketersediaannya melimpah di Indonesia. Secara ekonomi, biaya produksi juga lebih murah dibandingkan abu tulang asli. Di samping itu, bagi umat muslim, bahan abu tulang sintetis lebih meyakinkan dibandingkan dengan abu tulang hewan yang asal usulnya bisa diragukan.










Share:

Twitter