KEGIATAN KEMENPERIN

Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (part1)


Pada tanggal 4 November 2015, bertempat di Hotel Borobudur Jakarta, telah diselenggarakan Sosialisasi Integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) : Peluang dan Tantangan yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang dihadiri oleh Perwakilan RI di luar negeri, Para Gubernur, Pemda, Asosiasi, Kadin, APINDO, akademisi dan Pejabat dari K/L.


Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan awareness Pemerintah Pusat dan Daerah serta masyarakat luas tentang persiapan yang telah dilakukan Indonesia dalam menghadapi integrasi MEA yang akan berdampak terhadap perekonomian termasuk terhadap kesempatan kerja di Indonesia dan di negara ASEAN lainnya. Sebagai nara sumber pada acara sosialisasi tersebut adalah dari Kementerian Perdagangan, Otoritas Jasa Keuangan, KBRI Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, dan KBRI Myanmar.


Menteri Koordinator Perekonomian Bapak Darmin Nasution menyatakan, ASEAN telah menjelma menjadi kawasan ekonomi yang menjanjikan. Dengan berpijak pada tiga pilar antara lain politik keamanan, ekonomi, serta sosial budaya. Integrasi  MEA diharapkan mampu menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, kondusif dan sejahtera. Indonesia perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi guna integrasi masyarakat ASEAN yang resmi berjalan 1 Januari 2016 mendatang. Dengan berpijak pada tiga pilar antara lain politik keamanan, ekonomi, serta sosial budaya, integrasi MEA diharapkan mampu menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, kondusif dan sejahtera.


Indonesia telah melakukan serangkaian aksi dalam rangka menghadapi MEA mendatang, salah satunya Integrasi sektor keuangan menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan Bp Muliaman bisa menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi di kawasan ASEAN. Sebab pada umumnya, negara di kawasan ini sering menghadapi defisit untuk mencukupi kebutuhan investasi, karena kekurangan investasi tidak cukup dipenuhi dari dana  tabungan, maka integrasi keuangan diharapkan menekan gap tersebut.Sektor jasa keuangan merupakan tulang punggung yang menyokong kesiapan Indonesia dalam memasuki MEA. Ada 3 pilar utama sektor keuangan ASEAN yaitu perbankan, pasar modal dan asuransi. Beberapa persiapan yang telah dan sedang dilakukan oleh otoritas jasa keuangan dalam menghadapi MEA antara lain : a) Peluncuran kerangka kerja integrasi keuangan ASEAN dengan agenda prioritas adalah integrasi di sektor perbankan, tercapainya kesepakatan terkait kerangka integrasi perbankan ASEAN dengan beberapa negara yaitu Malaysia dan Singapura, b) Integrasi dan pengembangan pasar modal melalui ASEAN Capital Market Forum, c) Pembahasan teknis rencana integrasi asuransi ASEAN .


Kapabilitas perbankan Indonesia lebih baik dibandingkan dengan negara ASEAN-5 (Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand dan Singapura) lainnya, tercermin dari tingginya nilai CAR yang mencapai 20 % sehingga diharapkan mampu mendukung ekspansi dan mengcover resiko. Dilihat dari sisi rentabilitas, kemampuan perbankan Indonesia dalam menghasilkan laba juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN -5 lainnya. Ini membuktikan Indonesia merupakan pasar potensial bagi perbankan negara lain untuk melakukan ekspansi bisnisnya. Namun untuk  Pasar modal, Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN-5 lainnya baik dari jumlah transaksi, kapitalisasi pasar, maupun jumlah emiten.


Dalam menghadapi MEA 2015, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan beberapa kebijakan yang bersifat lintas sektoral dan memberi perhatian khusus dalam meningkatkan daya saing, antara lain : a) Inpres No. 5/2008 tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008 – 2009, b) Inpres No. 11/2011 tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru masyarakat Ekonomi ASEAN, c)  Keppres No. 23/2012 tentang susunan keanggotaan setnas ASEAN, d) program Pembangunan seperti MP3EI, e) Program Sislognas, f) Penyusunan Roadmap dan Inpres Daya saing, g) Policy Paper mengenai kesiapan Indonesia menghadapi AEC h) dan pembentukan Komite Nasional AEC 2015, i) Unit Kerja Presiden di bidang Pengembangan dan Pengendalian pembangunan (UKP4) Monitoring Langkah  Pemerintah.


Sembilan cabang industri yang akan dikembangkan guna mengisi pasar ASEAN adalah produk berbasis agro, kakao, karet, ikan dan produk olahannya, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kulit dan barang dari kulit, furniture, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, mesin dan peralatannya serta logam dasar, besi dan baja.



Share:

Berita Serupa

Kegiatan Lainnya  

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM