KEGIATAN KEMENPERIN

Sosialisasi Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (part2)


Strategi Laos dan Myanmar


Dalam menghadapi MEA 2015 Laos telah membangun 10 (sepuluh zona ekonomi khusus yang diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhan investasi. Beberapa perusahaan telah beroperasi di zona-zona ekonomi khusus tersebut, antara lain yaitu Savanlo Tourism Service, Nikon Lao, Koyo Parts Cameras, Toyota Bushoku Assembles Vehicles, Essilor Ophthalmic Lenses, Aerowork Airplane Parts, Pasifica Streams Development, Aderans Wig Producers dan King Roman International Group.


Pemerintah Laos juga telah mengeluarkan kebijakan untuk menambah dana promosi sekitar 30 Juta USD guna mendukung dana operasional UKM. Dengan suntikan dana dan pemberian kredit berbunga rendah tersebut, diharapkan UKM dapat mengembangkan bisnisnya dan berkompetisi dengan UKM dari negara anggota ASEAN lainnya. Selain itu, Pemerintah Laos telah mendirikan Pusat-Pusat Pelayanan UKM yang berfungsi untuk memberikan konsultasi dan pelatihan bagi pemilik usaha, serta mengindentifikasi peraturan yang diperlukan perbaikan dan untuk menemukan solusi.


Laos memprioritaskan produk-produk tertentu seperti furniture dan kerajinan tangan sebagai primadona ekspor Laos namun design dan keahlian pengrajin Laos masih belum banyak berkembang dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Di Laos bahan baku kayu masih mudah untuk didapatkan namun pengrajin Laos masih belum optimal dalam menciptakan karya-karya bernilai tinggi.


Peluang Indonesia di Laos adalah pernyataan Laos atas ketertarikannya pada pesawat N219 dan N212i produksi PT. Dirgantara Indonesia. Beberapa brand Indonesia sebenarnya sudah memasuki pasar Laos, seperti Orang Tua Grup, Polytron, Mayora, Richeese Nabati, Gajah Tunggal dll, namun barang tersebut masuk melalui Thailand terlebih dahulu. Sehingga tidak tercatat sebagai ekspor Indonesia namun sebagai ekspor Thailand ke Laos.


Sementara itu dalam menghadapi MEA,  Pemerintah Myanmar telah melakukan a) Reformasi ekonomi khususnya di bidang perdagangan dan investasi.b) Kebijakan dan deregulasi agar minat pengusaha/investor asing masuk dan menjalin bisnis dengan mitra terkait di Myanmar, c) mempersiapkan 3 (tiga) Special Economic Zone, d) dan pembangunan di banyak sektor, termasuk sarana dan pra-sarana infrastruktur (ASEAN Highway Network) yang sangat dibutuhkan di sejumlah wilayah yang menjadi harapan untuk konektivitas dengan negara-negara tetangga di kawasan terkait.



Share:

Berita Serupa

Kegiatan Lainnya  

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM