KEGIATAN KEMENPERIN

Kemenperin Gelar Pameran Gebyar Teknik Industri Indonesia


Dalam upaya menunjukkan kemampuan daya saing dan pendalaman industri manufaktur nasional, salah satu langkah strategis yang dilakukan Kementerian Perindustrian adalah melaksanakan kegiatan pameran Gebyar Teknik Industri Indonesia yang bertema “Bangun Industri & Produk Indonesia” di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (17/11).


Pada kesempatan tersebut, Dirjen ILMATE I Gusti Putu Suryawirawan mewakili Menteri Perindustrian membuka secara resmi pameran yang menampilkan berbagai produk unggulan industri nasional yang telah memiliki daya saing untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun ekspor. Produk-produk tersebut diantaranya produk plastik, komponen otomotif, kerajinan, fesyen, dan furniture.


Kegiatan yang kali ketiga tersebut terselenggara atas kerjasama Kementerian Perindustrian dengan Ikatan Sarjana Teknik Industri & Manajemen Industri Indonesia (ISTMI), Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Teknik Industri Indonesia (BKSTI), dan Persatuan Insinyur Indonesia -Badan Kejuruan Teknik Industri (PII – BKTI).


Dalam sambutan Menteri Perindustrian yang dibacakan oleh Dirjen ILMATE, disampaikan bahwa daya saing industri Indonesia saat ini mengalami kendala akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.”Salah satu cara yang paling sederhana dalam meningkatkan daya saing dan pendalaman industri dalam negeri adalah peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM),” tutur Putu.


Ia mengakui, pelemahan ekonomi nasional disebabkan karena adanya krisis ekonomi dunia, yang juga telah membawa dampak pada pengembangan industri dalam negeri. “Karena kita masih menggunakan bahan baku impor dalam beberapa proses produksi di industri kita. Namun, sebenarnya kita memiliki potensi besar dalam hal daya saing industri yang harus terus didukung dan dikembangkan,” ujarnya.


Tidak hanya industrinya saja, menjelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, SDM industri juga dituntut untuk memiliki sertifikasi kompetensi untuk menunjukkan daya saingnya. Hal ini sebagai upaya menghadapi persaingan dari produk dan SDM asing.


Menurut Putu, untuk menghadapi banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, perlu dibuat suatu standar mengenai kompetensi kerja yang disebut dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). “Dengan memberikan sertifikasi kompetensi, dapat menjadi satu upaya untuk meningkatkan daya saing SDM industri kita, sehingga dalam pasar bebas nanti kita dapat mengatur bangsa asing yang masuk agar kita tidak dikendalikan dan tidak dikuasai,” paparnya.


Di samping itu, perlu dilakukan upaya lain, seperti menekan dan menyaring jumlah investasi dan investor asing yang akan dan ingin masuk ke Indonesia. “Jika investasi untuk industri yang dapat kita lakukan sendiri dan kita mempunyai potensi besar dalam bidang itu, perlu adaya pencegahan bagi investor asing,” tegasnya.


Namun apabila jumlah investasi dalam golongan besar dan bersifat high-technology, maka dapat dipertimbangkan untuk masuk di Indonesia. “Kita harus bisa menghadapi pihak-pihak asing yang ingin menguasai kekayaan dan sumber daya alam yang luas. Oleh karena itu, SDM industri kita harus terus dibina dan dikembangkan karena kita memiliki potensi yang sangat besar,” ungkap Putu.


Ditambakannya, “Memang banyak investor yang ada di indonesia, namun yang harus diminimalisir adalah lapangan kerja yang akan diisi asing itu seharusnya bisa ditempati oleh anak bangsa sendiri. Selain itu, peningkatan penggunaan produksi dalam negeri merupakan suatu hal yang bersifat wajib”.


Putu juga mengharapkan peran dari lembaga Teknik Industri di Indonesia agar dapat mewujudkan kesiapan SDM industri pada tingkat nasional dalam menghadapi pasar bebas ke depan, sehingga Indonesia siap bersaing dengan negara lainnya untuk produk barang dan jasa.



Share:

Kegiatan Lainnya  

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM