BERITA INDUSTRI

Menperin Wacanakan Energi Thorium


Sumber : Suara Karya

JAKARTA (Suara Karya) - Menperin Saleh Husin mewacanakan pengembangan energi alternatif pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) nonuranium. Pembangkit listrik baru yang layak dipertimbangkan adalah PLTN yang menggunakan unsur thorium atau nuklir hijau.

Saleh mengatakan kebutuhan industri terhadap energi khususnya listrik makin tinggi. Sehingga perlu ada upaya penyediaan listrik yang cukup dan murah agar Indonesia bisa berdaya saing.

"Kita didatangi teman-teman dari energi, salah satunya adalah bahan baku thorium di Babel (Bangka Belitung). Bangun energi yang harganya lebih murah, ramah, dan bersaing. Salah satunya adalah pembangkit listrik thorium.

Kalau nuklir orang masih alergi," kata Saleh Husin dalam Seminar Indonesia dan Diversifikasi Energi, "Menentukan Arah Kebijakan Energi Indonesia", Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (14/4).

Dikatakan, unsur Thorium cukup banyak ditemukan di Babel. Bila gagasan ini terwujud, industri lokal bisa bersaing dan tumbuh, apalagi dalam 5 tahun pengembangan industri akan didorong ke luar Jawa.

Sumber daya Thorium sangat berlimpah, jauh lebih banyak daripada uranium. Australia memiliki cadangan terbesar thorium di dunia, diikuti oleh India. Thorium langsung dapat diekstraksi dari tanah, dan jauh lebih aman terhadap lingkungan. Pemerintah Vietnam, India dan Malaysia sudah menggunakan Thorium sebagai sumber energi alternatif bagi industri mereka.

Berdasarkan situs Dewan Energi Nasional, Thorium merupakan bahan bakar nuklir yang lebih unggul dari uranium di hampir semua aspek.

Namun memang belum banyak didengar. Thorium disebut sebagai nuklir hijau.Reaktor nuklir bertenaga Thorium tidak pernah dapat meleleh karena Thorium lebih ringan daripada uranium dan tidak fissile (bisa ditumpuk dan tidak akan mengalami reaksi runaway berantai).

Sebaliknya, hanya perlu menyuntikkan energi ke dalam reaktor Thorium agar menyala atau kick off. Beberapa desain menggunakan uranium atau plutonium sebagai pemicu kick off.

Desain yang lebih aman lagi menggunakan berkas partikel untuk memicu reaksi. Desain tersebut dikenal sebagai sistem accelerator-driven, yakni reaktor menggunakan akselerator partikel untuk menghasilkan berkas proton yang ditembakkan ke thorium untuk menghasilkan neutron.

Thorium merupakan pilihan yang baik karena memiliki neutron-yield yang tinggi per neutron yang diserap. Jika ada masalah, dapat dimatikan segera dan reaktor akan mendingin dengan sendirinya. Pelelehan dihindari dengan tidak melakukan apa-apa.

Sedangkan untuk reaktor uranium, pada keadaan operasi normal, diperlukan intervensi konstan yang aktif untuk mencegah pelelehan atau meltdown.

Karena lebih ringan dari uranium, maka Thorium menghasilkan limbah radioaktif tingkat tinggi yang lebih sedikit. Limbah ini umum dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir.

Jika reaktor berbahan bakar uranium menghasilkan berton-ton limbah beracun selama 10.000 tahun ke depan, maka reaktor Thorium menghasilkan lebih sedikit limbah beracun yang akan habis terurai sekitar 500 tahun ke depan. Jelas lebih aman dari uranium.

International Atomic Energy Agency (IAEA) memperkirakan bahwa potensi sumber daya thorium adalah antara tiga dan empat kali lebih banyak daripada potensi sumber daya uranium dan juga jauh lebih efisien dalam siklus bahan bakar, antara 100 dan 300 kali lebih efisien daripada reaktor standar light-water.

Share:

Twitter

Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM