BERITA INDUSTRI

Investasi Asing Tembus US$ 16 Miliar


Sumber : Investor Daily

JAKARTA - Investasi asing langsung (foreign direct investment/ FDI) diperkirakan menembus US$ 16 miliar (Rp 207,9 triliun) kuartal I tahun ini, melonjak 135% dibanding periode sama tahun lalu sebesar, US$ 6,8 miliar. Salah satu pemicu lonjakan FDI adalah penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) oleh BKPM, yang menyederhanakan dan mempercepat perizinan. Selain itu, Indonesia masih menjadi magnet investasi bagi perusahaan global, karena pasar domestik sangat menggiurkan seiring pertumbuhan ekonomi yang akan naik dan penduduk mencapai 250 juta.

Pemodal asing membidik sektor-sektor potensial di Indonesia, seperti pertambangan dan manufaktur, terutama industri makanan dan minuman (mamin) olahan. Tahun lalu, FDI di sektor pertambangan dan mamin menjadi dua terbesar, masing-masing senilai US$ 4,7 miliar dan US $ 3,1 miliar.

Industri mamin diminati karena pasarnya besar. Industri ini merupakan cabang industri yang menjadi penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar. Adapun tingginya investasi di pertambangan disebabkan kebijakan larangan ekspor mineral mentah dan program hilirisasi industri yang dimotori Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memperkirakan, investasi mamin tahun ini mencapai Rp 60 triliun, naik dari tahun lalu Rp 52 triliun. Perusahaan yang telah merealisasikan investasinya antara lain Coca Cola semlai US$ 500 juta, UHA Mikakutou Co Ltd, dan Kanematsu Corp.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan, dari estimasi FDI sebesar US$ 16 miliar pada kuartal I tahun ini, mayoritas mengalir ke industri mamin. Investor sebagian besar berasal dari Jepang dan Amerika Serikat (AS). BKPM kini membidik perusahaan mamin asal Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan (Korsel) untuk membangun pabrik di Indonesia.

"Investasi mamin terus meningkat Industri mamin merupakan salah satu penopang pertumbuhan investasi di Tanah Air, terutama subsektor minuman. Tahun ini, prospek investasi mamin masih menjanjikan," ujar Franky kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Target 2015

BKPM menargetkan, total investasi tahun ini mencapai Rp 519,5 triliun atau tumbuh 14% dari tahun sebelumnya Rp 463 triliun. Rinciannya, penanaman modal dalam negeri (PMDN) ditarget mencapai Rp 175,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) atau FDI Rp 343,7 triliun.

Pencapaian target investasi 2015 akan didorong dari sektor industri primer sebesar Rp 97,6 triliun, sekunder atau hilir sebesar Rp 211,9 triliun, dan jasa sekitar Rp 147,1 triliun. "Sesuai strategi BKPM, kami fokus ke beberapa sektor seperti kelistrikan, substitusi impor, infrastruktur, maritim, industri padat karya, serta pertanian," kata Franky.

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo mengatakan, pasar minuman ringan dalam negeri cukup seksi di mata investor, terutama yang telah memiliki fasilitas pabrik. Tren ini akan terus bertahan dalam jangka pendek dan panjang, didorong pola konsumsi masyarakat Indonesia yang semakin mobile.

Namun demikian, lanjut dia, investor saat ini masih menahan diri akibat pembatalan Undang-Undang No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Oleh karena itu, Triyono mengimbau pemerintah lebih konsisten dalam membuat suatu kebijakan, karena hal ini sangat memengaruhi iklim investasi.

Dia mengungkapkan, sejumlah perusahaan asal Korsel dan Jepang berminat berinvestasi di Indonesia. Mereka menanyakan kepastian hukum setelah pembatalan UU SDA "Kami harap pemerintah membuat suatu kebijakan atau keputusan dengan landasan hukum yang kuat, sehingga tidak membingungkan investor," ujar dia.

Magnet Investasi

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, Indonesia masih menjadi magnet investasi perusahaan multinasional. Salah satu bisnis yang prospektif adalah mamin olahan.

Selain ditopang jumlah penduduk yang mencapai 250 juta, Menperin mengatakan, iklim bisnis nasional tetap kondusif dan bersahabat bagi investor. "Perekonomian kita memang ditopang oleh sektor konsumsi dan inilah yang menggerakkan perusahaan global agresif menanam modal di Indonesia. Mereka optimistis berbisnis di Indonesia," kata Saleh.

Kemenperin menargetkan investasi manufaktur tahun ini mencapai Rp 270 triliun, naik dari tahun lalu Rp 195 triliun. Kemenperin fokus mendorong investasi sektor baja dan petrokimia.

Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Harjanto, investasi manufaktur ditargetkan menyumbang 40% total investasi. Jumlah ini sama seperti tahun lalu.

"Baja dan petrokimia perlu diperkuat karena merupakan modal untuk mendorong pembangunan infrastruktur. Baja, semen, dan aspal dibutuhkan untuk membangun infrastruktur, sehingga industrinya harus diperkuat Yang terpenting adalah membangun kemandirian industri," ujar dia.

Pembangunan infrastruktur, kata dia, akan menopang semua sektor ekonomi, termasuk industri manufaktur. Dia menegaskan, program hilirisasi industri yang dimotori Kemenperin membutuhkan dukungan infrastruktur dan logistik yang memadai.

Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur dapat mendongkrak permintaan baja di pasar domestik yang belakangan ini merosot. Untuk itu, pembangunan infrastruktur harus mengutamakan penggunaan baja lokal.

"Untuk itu, kami mendorong perusahaan seperti Osaka Steel memperkuat industri baja konstruksi. Jadi, program pembangunan lima tahun ke depan harus didukung penuh industri," tandas Harjanto.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Setio Hartono menuturkan, investasi manufaktur bisa semakin meningkat jika masalah listrik dan gas industri dapat diselesaikan. Jika belum, menurut dia, investor lebih memilih wait and see.

"Hal tersebut sangat disayangkan karena faktor fundamental dan administrasi seperti PTSP harusnya bisa menarik lebih banyak investor," kata dia.

Setio menambahkan, revisi PP No 52/2011 mengenai tax allowance yang akan berlaku sebulan mendatang juga berdampak positif terhadap investasi. Hal ini sangat dibutuhkan untuk investasi industri hulu yang memerlukan modal besar dengan margin tipis.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan, penerapan PTSP sejak Januari tahun ini merupakan salah satu faktor pendorong FDI. Dengan PTSP, perizinan investasi menjadi lebih simpel dan efisien.

Sebelum PTSP diluncurkan, investor harus menunggu hingga sebulan untuk mendapatkan izin investasi. Setelah PTSP diluncurkan, pengurusan izin investasi menjadi lebih gampang dan hanya memakan waktu maksimal satu minggu.

"PTSP sudah menjadi daya tarik bagi investor, terutama investor asing. Saya tidak heran investasi asing naik tajam pada kuartal I tahun ini," ujar dia.

Dia memperkirakan investasi asing terus naik hingga akhir tahun ini. Sektor-sektor yang menjadi incaran asing adalah manufaktur, pertambangan, serta minyak dan gas (migas). "Pemerintah harus tetap mempertahankan PTSP untuk menarik investasi. Selain itu, solusi untuk masalah pembebasan lahan harus menjadi fokus utama pemerintah untuk mengerek investasi," kata Natsir.

Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM