BERITA INDUSTRI

Kualitas Kertas Bekas Lokal Rendah


Sumber : Bisnis Indonesia

JAKARTA — Produsen kertas menilai permintaan Kementerian Perindustrian agar memaksimalkan kertas bekas lokal sebagai bahan baku sulit dilakukan mengingat kualitas kertas yang tidak bagus.

Kementerian Perindustrian diketahui telah meminta industri kertas untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku kertas bekas sebanyak dua juta ton dengan memaksimalkan kertas bekas dalam negeri.

Dengan asumsi kertas yang diserap pasar domestik per tahun sekitar 6,2 juta ton maka 70% dari ini setara 4,4 juta ton. Selama ini di dalam negeri baru bisa menghasilkan sekitar 2,5 juta ton kertas bekas, sisanya diimpor.

Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Rusli Tan berpendapat secara logika target itu bisa dicapai dengan upaya ekstra keras dalam praktiknya. Pasalnya, kertas yang diserap industri saja bukan lagi dari serat virgin sehingga seratnya tidak bagus jika diolah lagi sebagai waste paper.

“Untuk mencapai 50% [kertas yang diserap domestik] diproses jadi bahan baku waste paper saja sulit. Karena seratnya bukan virgin sehingga efisiensinya rendah,” tuturnya, Selasa (17/3).

Pengumpulan kertas bekas di Indonesia sekarang pun belum efisien. Kebanyakan masyarakat menggunakan kertas tak terpakai sebagai bungkus makanan. Sisa dari pemakaian ini tidak bagus jika dipakai untuk bahan baku waste paper.

Namun, impor kertas bekas pun bukan tanpa hambatan. Pemerintah menganggap impor waste paper sebagai limbah non B3. Oleh karena itu, harus masuk proses Verifikasi Penulusuran Teknik Impor (VPTI) yang melibatkan perusahaan inspeksi.

Proses inspeksi tersebut pada akhirnya bikin ongkos pengapalan melonjak. Semula biaya per shipment hanya US$60 lantas masuk proses inspeksi sehingga melonjak jadi US$386 - US$1.400 setiap pengapalan. “Impor kertas bekas atau waste paper banyak dari Amerika Serikat karena seratnya masih panjang dan bersih,” ujar Rusli.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebuhan Kementerian Perindustrian Pranata mengatakan produksi kertas di dalam negeri mencapai 10,4 juta ton pada tahun lalu. Adapun yang beredar di negeri sendiri hanya 60%, selebihnya diekspor.

“Dari 60% yang untuk dalam negeri itu, 70% diharapkan bisa jadi kertas bekas. Harapan kami pangsa pasar waste paper impor

bisa dikurangi. Ini butuh kesadaran masyarakat pisahkan waste paper basah dan kering,” tuturnya.

Suplai kertas bekas penting bagi industri karena separuh dari bahan baku yang dipakai adalah waste paper. Sebetulnya keterbatasan pasokan kertas bekas ini dapat disiasati dengan mencari alternatif bahan baku, misalnya dari kayu kelapa sawit.

TARGET PRODUKSI

Pada tahun lalu utilisasi produksi kertas sekitar 80%. Persentase ini berasal dari kapasitas produksi sekitar 13 juta ton tetapi realisasi produksi hanya 10,4 juta ton. Adapun pada tahun ini diproyeksikan produksi meningkat tipis ke level 11 juta ton per tahun.

Salah satu pembatas produktivitas industri bubur kertas (pulp) dan kertas ialah tidak efektifnya penyediaan hutan tanaman industri (HTI). Pembukaan lahan untuk dijadikan HTI sedang dihentikan sementara (moratorium) oleh Kementerian Kehutanan.

“Untuk pengembangan industri pulp dan kertas, sehingga moratorium HTI diharapkan tidak diperpanjang untuk mendukung investasi baru di sektor ini,” ujar Pranata.

Ekspor kertas pada tahun lalu sekitar 4,50 juta ton atau tumbuh sekitar 9,8% dari 4,10 juta ton pada 2013. Kendati dari segi volume bertambah tetapi omzet ke luar negeri justru susut. Ekspor tahun lalu menghasilkan US$2,4 miliar, sedangkan pada 2013 nilainya

menyentuh US$3,7 miliar.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 64/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan ditetapkan mulai 1 Januari 2013 disyaratkan dokumen sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).

Kebijakan tersebut berlaku secara mandatori untuk produk kayu olahan khususnya produk pulp dan kertas untuk memastikan

legalitasnnya. Tapi aturan ini dirasa menghambat aktivitas ekspor kertas.

“Sebetulnya untuk kertas bukan SLVK tetapi deklarasi ekspor. Tapi [keluarnya] surat rekomendasi ini butuh waktu karena harus ada inspeksi dulu, jadi ada jeda waktu,” ucap Pranata. Selama ini Indonesia merupakan salah satu produsen bubur kertas dan kertas yang diperhitungkan di dunia. Untuk pulp peringkat RI ke-9, sedangkan produksi kertas di urutan ke-6.

Di level Asia, produksi pulp dan kertas Indonesia nomor tiga terbanyak. Kebutuhan kertas di kancah global kini berkisar 394 juta ton. Jumlah ini diyakini tumbuh 24,4% menjadi 490 juta ton pada 2020. Konsumsi kertas di dunia diramalkan tumbuh rerata 2,1% per tahun, sedangkan pasar negara-negara berkembang naik 4,1% per tahun dan negara maju 0,5%.

Share:

Twitter

Penghargaan Industri Hijau Program Restrukturisasi Mesin Peralatan IKM