BERITA INDUSTRI

Industri Piranti Lunak Pilar Penting Ekonomi


Jakarta - Industri Piranti Lunak Indonesia merupakan pilar penting dalam memperkuat ekonomi Indonesia terutama karena Industri Piranti lunak tidak hanya mencakup aspek ekonomi, namun mencakup berbagai dimensi lainnya seperti kreativitas, kapabilitas, dan kemampuan sumber daya manusia Indonesia (brainware)."

Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia ASPILUKI / Indonesia Telematics Software Association (ITSA), Djarot Subiantoro di Jakarta, Jumat (29/4/2011) menyatakan, bahwa persepsi konsumen terhadap industri piranti lunak turut membentuk situasi ini, selain aspek-aspek sosial, ekonomi dan penegakan hukum.

Selain itu, Djarot juga menghimbau perlunya edukasi secara konsisten dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran publik dalam menegakkan etika dalam menghargai hak orang lain termasuk HKI.

Etika dalam penegakkan HKI ini akan meningkatkan kepercayaan yang mendorong peningkatan kewirausahaan, iklim dan lingkungan usaha yang lebih kondusif dalam menarik pasar maupun investor, melalui ketersediaan dan kelengkapan informasi.

Peranan penggunaan piranti lunak untuk mengembangkan inovasi tercermin dari sebuah data menarik, dimana pelanggaran HKI dalam hal penggunaan piranti lunak `non-original' di Indonesia, secara nominal, termasuk rendah dibandingkan negara-negara lainnya di regional Asia Pasifik, kecuali Australia.

Namun demikian, berdasarkan survey BSA tahun 2007, tingkat pembajakan piranti lunak di Indonesia secara persentase masih termasuk tinggi yaitu 84%, hal ini menggambarkan bahwa tingkat pendayagunaan piranti lunak secara menyeluruh masih relatif rendah, yang antara lain dipengaruhi tingkat kepercayaan industri maupun investor terhadap penghargaan atas HKI.

Tingginya teknologi, bukan berarti tidak ada risiko, terutama dengan penggunaan piranti lunak bajakan. Resiko seperti pencurian identitas, kehilangan data dan kerusakan perangkat keras sebagai akibat serangan-serangan virus, malware merupakan dampak yang harus dihadapi.

 

Sumber: Tribunnews.com, 30 April 2011

Share: