BERITA INDUSTRI

Produksi Polipropilena Normal Juni


Jakarta - Kapasitas produksi polipropilena Indonesia diperkirakan akan optimal mulai awal Juni, setelah PT Polytama Propindo kembali berproduksi.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono memperkirakan anak perusahaan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) itu dapat kembali berproduksi penuh paling cepat 1-2 minggu setelah penyelesaian permasalahan TPPI dengan Pertamina.

"Butuh waktu, paling cepat awal Juni mereka sudah produksi penuh," ujarnya seusai pemaparan HSBC Trade Confidence Index, hari ini.

Sekjen Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI) Totok Wibowo berharap pasokan resin dari Polytama dapat mengurangi tekanan biaya produksi yang selama ini dialami produsen plastik hilir.

“Kami berharap masalahnya selesai secepatnya, karena saat ini susah sekali mendapatkan polipropilena (PP) hingga harganya tinggi,” ucap Totok ketika dihubungi bisnis, pekan lalu.

Sebelumnya, bisnis mengabarkan TPPI telah menandatangani perjanjian pembayaran utang ke Pertamina bernilai US$375 juta atas kompensasi kegagalan mengirim middle distillate products ke Pertamina, Senin.

Kebutuhan PP Indonesia diprediksi mencapai 1.210.000 ton pada 2011. Saat ini, kebutuhan resin tersebut Indonesia ditunjang sepenuhnya oleh PT Chandra Asri yang hanya mampu menghasilkan 480.000 ton per tahun.

Polytama berhenti memproduksi PP sejak Agustus 2010, padahal kapasitas produksi perusahaan tersebut mencapai 370.000 ton per tahun.

Permasalahan Polytama, menurut Fajar, yang menyebabkan kelangkaan PP di pasar domestik yang membuat produsen plastik kesulitan mendapatkan bahan baku.

“Kalau harga plastik yang tinggi, di seluruh dunia seperti itu karena kenaikan harga minyak bumi,” kata Fajar.

Inaplas menargetkan produksi PP domestik mencapai 800.000 ton pada 2011, naik dari realisasi produksi tahun lalu yang sebanyak 540.000 ton.

Wakil Ketua Inaplas Budi Sadiman yakin produsen bahan baku plastik Indonesia sanggup memenuhi pertumbuhan permintaan plastik dalam negeri yang tumbuh pesat, terutama ditunjang permintaan industri otomotif dan makanan minumuman.

“Masalah kami adalah bahan baku, terutama naphta. Tapi saya rasa setelah pemerintah mulai mencabut subsidi premium, kita akan punya stok yang cukup hingga bisa lebih bersaing,” ujarnya.

 

Sumber: Bisnis.com/industri/manufaktur, 10 Mei 2011

Share: